Melawan Kanker :: Menolak Berperan Sebagai Korban ::
Melawan Kanker
Pengantar
Pendahuluan
Kisah Peperangan
Sebuah 'Kekeliruan Negatif'
Beralih ke Nutrisi
Prinsip Pertama - Kenali Musuh Anda
Apa Kanker Itu?
Apa Penyebab Kanker?
Sistem Kekebalan Anda
Strategi Pengobatan
Prinsip Kedua - Putuskan Jalur Pasokan Musuh
Pembersihan Internal & Detoksifikasi
Enema
Koloniks
Puasa Juice
Prinsip Ketiga - Bangunlah Kembali Sistem Pertahanan Alamiah Anda
Menjadi Vegetarian
Menemukan Alergi Makanan
Lemak
Olah Raga
Prinsip Keempat - Ikutsertakan Balabantuan
Vitamin
Mineral
Pasukan Lainnya
Prinsip Kelima - Pertahankan Semangat
Menolak Berperan Sebagai Korban
Menemukan Humor
Prinsip Keenam - Pilihlah Pertolongan Profesional Anda Secara Seksama
Bidang-Bidang & Filosofi
Menjadi Rekan Seperjuangan
Teman-Teman Tetap Terlibat
Mendukung Orang-Orang Yang Menolong
Apendiks A
Apendiks B

 

 

Melawan Kanker

Anne E. Frahm & David J. Frahm

Menolak Berperan Sebagai Korban

Jika akan punya kesempatan apapun untuk mengalahkan kanker, anda harus memasuki peperangan dengan sikap hati bahwa anda akan melakukan segala yang memungkinkan untuk menang -- bahwa anda akan menjadi pemenangnya, bukan korbannya. Sikap seorang penderita kanker yang memainkan peran sebagai korban adalah sangat destruktif. Mereka yang melakukannya cenderung menerima dengan pasif apa yang dikatakan kepada mereka bahwa nasib sudah tidak terelakkan. Mereka cenderung menerima apa yang dikatakan pada mereka, sekarat tepat seperti yang dijadwalkan, searah dengan prognosis mereka. Istilah korban menyatakan bahwa orang lain harus merasa kasihan terhadap mereka, merawat dan membuat keputusan-keputusan bagi mereka.

Sebaliknya, ada individu-individu yang, tidak perduli apa kemungkinan prognosis mereka, menolak dicap sebagai korban. Dr. Siegel menganggap orang-orang ini sebagai "pasien-pasien yang berbeda," dan mengamati bahwa 15 sampai 20 persen penderita kanker cocok dengan gambaran ini. "Mereka mendidik dirinya sendiri dan menjadi spesialis di bidang perawatan mereka masing-masing. Mereka menanyai dokter karena mereka ingin memahami pengobatan mereka dan berpartisipasi di dalamnya. Mereka menginginkan ketekunan, pendekatan pribadi, dan pengendalian, tidak perduli apa tingkat keparahan penyakit."

Jika akan mengalahkan penyakit ini secara efektif, anda harus tidak memainkan peran korban yang pasif. Kalau anda melakukannya, kanker akan mengalahkan anda. Dia akan mengambil apa yang anda berikan, dan tetap mengambil, sampai akhirnya tidak ada lagi yang dapat diambilnya dari anda.

Sebagai bagian program terapi, onkologis saya membuat kaus bagi para pasien kanker saya dengan logo "Tendanglah Kanker." Tiga kali seminggu kami berkumpul di klub kesehatan setempat untuk mengendarai sepeda dan mengangkat besi. Maaf, "Korban" tidak boleh masuk. Hanya para pejuang! Seorang wanita lain di dalam grup berkomentar, "Ini adalah suatu hal yang dapat saya lakukan sendiri yang membantu saya merasa seperti saya yang pegang kendali." Dia masih belum mengerti terhadap hal-hal lain yang dapat dia kerjakan, tapi ini adalah sebuah awal yang baik. Dia mulai berjalan menjauh dari perasaan sebagai korban -- ke arah menjadi pemenang.

Para Profesional lain di bidang pengobatan kanker mengenali kedahsyatan efek olahraga dalam menolong orang-orang menyingkirkan perasaan menjadi korban. Simontons, yang disebut dalam Bab 4, menulis,

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang menjalani program olahraga secara teratur (terutama, kombinasi antara jalan-kaki dan lari) cenderung menjadi lebih fleksibel dalam pemikiran dan keyakinannya, perasaan keberdayaan-diri mereka cenderung meningkat, konsep-diri dikuatkan, penerimaan-diri membaik, cenderung tidak menyalahkan orang lain, dan berkurangnya depresi. Gambaran keseluruhannya adalah bahwa pada umumnya orang-orang yang mengikuti program olahraga secara teratur cenderung memperlihatkan profil psikologis yang lebih sehat-orang itu seringkali memiliki prognosis yang baik dalam perjalanan penyakit keganasannya. Berkata Tidak Pada Perbudakan
Saya ingat di sekolah menengah atas di akhir tahun enampuluhan diputarkan sebuah film tentang bahaya merokok. Pemeran utama dalam film itu telah menjalani pembedahan untuk mengangkat tumor kanker dari mulut dan kerongkongannya. Dia juga dipasangi sebuah selang yang dimasukkan tepat di atas tulang dadanya, dan dia bernapas melaluinya. Itu bukan pemandangan yang indah! Namun satu momen yang ada di film itu telah mengasankan saya selama bertahun-tahun: laki-laki itu menyumpalkan sebatang rokok ke dalam pipa di dadanya untuk mengisapnya. Dia tahu itu akan membunuhnya, tetapi dia terus melakukan itu. Merokok telah menghancurkan kesehatannya, tapi dia terus membiarkan mengontrol kehidupannya.

Institut Kanker Nasional sudah memberitahu kami selama bertahun-tahun bahwa merokok dapat dan benar-benar menyebabkan kanker. Di Amerika Serikat, kurang lebih 460.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat kanker, perkiraan kasarnya 30 persen berhubungan dengan penyakit akibat rokok. Tahun ini dan tahun depan, dan tak diragukan lagi dalam tahun-tahun mendatang, hampir 140.000 orang akan menyerahkan nyawanya hanya karena mereka menolak berhenti menaruh rokok di bibirnya (atau di pipa dadanya, seperti kasus tadi).

Setelah merokok, di Amerika Serikat diet menyebabkan lebih banyak kanker daripada lainnya. "Diet adalah pembunuh ke 2 orang-orang Amerika," Dr. Michael McGinnis mengamati, direktur pada kantor pencegahan penyakit dan promosi kesehatan di A.S. Departemen Ksehatan dan Pelayanan Masyarakat. Ini juga, dapat memperbudak. Saya baru saja bicara dengan seorang sepupu kanker setelah dia menemui nutrionisnya. "Saya menemukan bahwa diet memberi makan kanker saya," katanya, "tapi saya tidak tahu apakah hidup ini layak dihidupi kalau saya tidak makan steik." Saya telah memperhatikan bahwa kita cenderung secara emosional diperbudak makanan yang kita makan, banyak penderita kanker yang lebih suka terus melakukan hal-hal yang buruk pada diri mereka daripada membuat keputusan mengubah kebiasan makannya. Kita lebih siap memposisikan tubuh kita pada pemotongan, pembakaran, dan peracunan (pembedahan, radiasi, kemoterapi) daripada melakukan sesuatu yang benar-benar "radikal" dan mengerikan seperti (menelan) memilih untuk makan yang lainnya.

Meski saya terpaksa menjalani terapi nutrional sebagai harapan terakhir yang masih mungkin, saya menemukan bahwa kehidupan masih tetap baik, walaupun saya tidak dapat memakan makanan yang biasa saya makan. Saya juga membuat penemuan yang luar biasa bahwa citarasa dapat dan benar-benar berubah. Sekarang setiap harinya, jika saya dengan konsisten melakukan apa yang saya ketahui baik dan benar bagi kesehatan fisik melalui diet saya, kondisi emosi saya meningkat. Sebuah lingkaran semangat terbentuk. Melakukan yang benar untuk tubuh membantu moral saya. Moral yang baik menolong tubuh saya untuk berperang lebih efektif terhadap kemungkinan kembalinya kanker.

Mengucapkan Rasa Syukur
Ucapan syukur bukanlah suatu sikap yang mudah berkembang, terutama jika terkunci di dalam peperangan yang mematikan kehidupan anda. Bahkan lebih sulit jika ada keterlibatan amarah terhadap orang-orang yang kelihatannya memainkan peran dalam kesulitan anda. Saya sangat kecewa terhadap dokter keluarga yang salah mendiagnosa kanker saya selama satu tahun. Saya marah kepada dokter ruang gawat darurat yang tampaknya mengira rasa sakit itu hanya ada di kepala saya saja. Saya marah kepada dokter manografi yang, kembali ke awal, meyakinkan saya dengan pernyataan pasti bahwa benjolan-benjolan saya bukan kanker.

Saya marah kepada banyak orang. Membiarkan kemarahan saya tak terkontrol akan menyebabkannya membusuk dan terfermentasi, menghancurkan kemampuan saya untuk memfokuskan secara efektif dalam mendapatkan kembali kesehatan saya. Kemarahan itu seperti kanker di dalam pikiran, melahap energi emosi seseorang. Persis seperti tubuh saya, pikiran dan semangat saya membutuhkan detoksifikasi. Semua racun emosi di kepala saya perlu dikeluarkan sebelum tubuh saya dapat bekerja secara efektif ke arah kesembuhan.

Jadi saya menghadapi kemarahan dengan suatu cara yang berhasil pada saya. Saya mengeluarkan semua kemarahan itu di atas kertas. Saya telah membuat jurnal selama bertahun-tahun. Selanjutnya pembuatan jurnal menjadi cara saya untuk mengenali dan melepaskan emosi saya yang merusak. Pertama-tama saya menulis surat ke semua dokter yang telah begitu buruk mengobati saya. Saya benar-benar mengirimkan sebuah salinan dari surat-surat kemarahan ini kepada doter keluarga agar dia tahu betapa dia telah mengecewakan saya. Kemudian saya menulis surat untuk Tuhan, melepaskan kemarahan dan kekecewaan saya padaNya karena membiarkan semua hal yang mengerikan ini terjadi pada saya. Sejak di sekolah menengah atas saya telah merasakan bahwa Tuhan bisa dikenali secara pribadi. Saya mengenal-Nya sebagai hasil dari sebuah proyek yang ditujukan pada penemuan kebenaran dasar tentang kehidupan. Pertanyaan telah membawa saya kepada Alkitab, di mana saya menemukan kasih Tuhan ada di dalam laki-laki bernama Yesus, yang dinyatakan menjadi Anak Allah. Tetapi sekarang saya marah kepada Tuhan atas semua yang sudah terjadi. Saya tahu bahwa saya tidak ingin lama-lama marah kepadaNya, sebab saya mengasihi Dia. Saya juga tahu bahwa mengeluarkan perasaan itu penting bagi saya.

Bagi saya, kemarahan itu semacam terapi untuk melalui proses terhadap alasan-alasan yang tak teruraikan. Saya melihat ada persoalan spesifik yang mendasari emosi saya yang kuat dan mengatasinya dengan cara yang spesifik. Misalnya, saya menyadari bahwa Tuhan tidak menyebabkan kanker saya atau mengharap itu terjadi pada saya, tetapi hukum alam yang membiarkan hal itu terjadi. Sama pastinya dengan "apa yang naik harus turun" dan "sapi tidak terbang," diet juga berdampak pada kesehatan. Prinsip Alkitab yang mengatakan bahwa "manusia menuai apa yang dia tabur" sesuai dengan kesehatan dan diet sama seperti yang dilakukannya pada hal-hal lain dalam kehidupan. Ungkapan "anda adalah apa yang anda makan" itu benar. Tuhan sangat berkuasa dan dapat melindungi saya dari berkembangnya penyakit degeneratif yang terkait-dengan-diet, tetapi Dia jarang melanggar hukum alamiah yang telah diletakkan pada tempatnya untuk memerintah ciptaanNya.

Saya kira saya dapat terus marah kepada Tuhan karena saya tidak dikecualikan terhadap peraturan-peraturanNya, namun saya mulai melihat tanggungjawab pribadi dalam seluruh kekacauan ini. Memang, beberapa dokter yang terpaksa saya kunjungi telah mengobati secara tidak cukup. Tetapi hei, dokter-dokter itu tidak sempurna. Persis seperti mekanik mobil, mekanik tubuh kadang-kadang membuat kesalahan. Itu penting bagi saya secara emosional, fisik, dan spiritual untuk datang ke suatu titik di mana saya dapat berkata dengan jujur bahwa di dalam hati saya memaafkan mereka. Ini sukar, tetapi perlu dilakukan untuk kebaikan saya sendiri. Membaca Alkitab itu membantu dan mengingatkan saya akan semua yang telah dimaafkan oleh Pencipta saya.

Sementara saya bekerja menyingkirkan racun-racun kemarahan dari roh saya, ada yang lain yang menghalangi jalan saya sebelum pengucapan syukur menjadi anggota muda dari kabinet perang saya. Yaitu berkenaan dengan sikap yang mengasihani diri saya sendieri, merasa bahwa sepertinya apa yang telah saya miliki dalam kehidupan ini telah ditipu atau dirampok. Saya kehilangan payudara dan sejumlah harga diri saya sebagai seorang wanita. Rambut saya rontok akibat kemoterapi, dan saya terpaksa mengalami kehinaan karena dari dada saya tergantung sebuah pipa limabelas inci, sepertinya saya semacam pasien-robot. Itu benar-benar tidak adil.

Lalu pada suatu hari, di awal perang, saya membaca sebuah artikel majalah tentang seorang laki-laki yang telah menjalani pembedahan untuk mengangkat hidungnya, yang telah menjadi kanker. Gambaran dari wajahnya yang tersiksa dan buruk dimuat. Kisah sedihnya mengingatkan saya bahwa tidak perduli seberapa buruk situasi saya pribadi, orang lain akan selalu kelihatan punya hal yang lebih buruk. Mungkin itu bukan motivasi yang termulia, tapi itu berhasil bagi saya.

Sejak hari itu saya membuat daftar secara rutin di dalam jurnal tentang hal-hal yang harus saya syukuri kepada Tuhan. Sangat luar biasa apa yang dilakukan rasa syukur itu kepada roh/semangat saya -- begitu juga terhadap tubuh saya. Saat saya meratapi kehilangan atau merasa kasihan terhadap diri sendiri, saya sering teringat pada orang yang tak punya hidung tadi. Saya berharap agar dia juga menemukan cara untuk mengembalikan semangatnya ke arah pengucapan syukur.

Berikut adalah sebuah masukan yang saya buat dalam jurnal setelah saya berkomitmen untuk berteima kasih: Ketika duduk di tempat praktek dokter keluarga pada hari lainnya, saya melihat seorang wanita masuk bersama seorang anak laki-laki muda. Dia jelas kelihatan sebagai korban yang terbakar. Saya dapat melihat bahwa bagian-bagian wajahnya, leher, dada, dan lengannya buruk. Hal yang terpancar dari orang ini adalah kemarahan. Semua hal tentang cara dia berjalan, bicara, membanting pintu, dan memperlakukan orang-orang berkata, "Saya adalah seorang korban. Saya marah seperti neraka, dan setiap orang di sekeliling saya akan menderita karenanya."

Ini menumbulkan kesan yang mendalam pada saya. Pertama, saya menyadari bahwa kitalah yang memilih sikap, akan menjadi orang seperti apa kita ini, bukan ditentukan keadaan sekeliling kita. Wanita ini memilih kemarahan dan mencoba menghukum orang-orang di sekelilingnya. Saya pilih mengasihi dan menerima, dan bahkan sukacita dan damai. Sumber saya adalah Tuhan dan kehidupan yang saya serahkan padaNya duapuluh tahun yang lalu. Saya memilih menjadi saluran yang memberi kenyamanan bagi orang-orang di sekeliling saya.

Kedua, itu mengingatkan bahwa saya punya rasa syukur kepada banyak hal. Ya, saya akan mengalami keburukan dan kejelekan di jalan hidup saya -- tapi ada orang lain yang mengalami lebih buruk dari yang saya alami. Saya punya banyak hal untuk disyukuri. Intinya adalah, saya memilih apa yang terpancar dari saya yaitu pengucapan syukur yang murni. Setiap hari saya akan menghitung berkat-berkat untuk menegaskan diri saya akan apa yang telah diberikan, bukan apa yang telah diambil.

***
POKOK PERTIMBANGAN


Mengabaikan Tuhan sekejap saja dalam kehidupan
seseorang adalah suatu kebodohan yang sukar saya pahami;
mengabaikaNya di saat menghadapi penyakit dan
penderitaan adalah lebih dari kebodohan.
-- Dr. Richard O. Brennan,
Coronary? Cancer? God's Answer: Prevent It!


Menemukan Humor

 

S i t u s - L a i n :

Edi Cahyono's Experience
Nur Rachmi's World
Semsar Siahaan's Gallery
Oey's Renaissance
George Grosz
Satu Mei
Yayasan Penebar Page
Political-Economy Page
<<Previous  ||  Next>>