"Aku hanya
pembunuh
kematian"
_________
(Monas Jr)

 All about Imajination
  Sastra dalam rumah-rumah Nusantara.
|Home|About Me| Friends |Mail-me|

Monas Short Stories
(semacam napak tilas):

• Tahun 2000
- Benar-benar Gila
- Doa di Tengah Hujan
- Curanmor

Tahun 2001
- Antrian
- Cincin
- Durian

- Kubus
- Kucing Belang
- Lalat-lalat Hijau
- Mati Suri
- Negeri Apa
- Potret
- Robot
- Saling Bantu
- Sepotong Lengan
- Surat Putih
- Terbang
- Vampir

Tahun 2002
- Demo Para Monyet
- Impas
- Isteri
- Kita
- Kasihku Seorang Barbar
- Kematian Damai
- Lelaki Tak Pernah Tidur
- Stum Palalo


Tahun 2003
- Apa yang Kau Lihat
- Cermin-cermin Bicara
- Huek!

- Kristal-kristal Gula
- Para Pendusta
- Pengecut
- Sampan
- Tanpa Tanda Kutip
- Tahi Lalat
- Rindu Ikan...

Tahun 2004
- Cyberlovetika

Tahun 2005
- Termurah
- BBM

Jambi Province
- All about Jambi

Filsuf
- Beberapa nama

My Book


Doa di tengah hujan

Cerpen : Monas Junior

      ‘’Tuhan! Tolong selamatkan akuuuu!!!!!''
      Tiba-tiba sebuah teriakan membelah malam yang tengah disibukkan oleh kerumunan bulir-bulir putih air hujan. Setelah beberapa hari turun, tampaknya tak ada kecenderungan sang hujan akan berhenti. Bahkan dengan kepongahannya ia menambah volume pengeluaran air, hingga menyebabkan selokan, gorong-gorong, tong sampah, terminal, sungai, sumur, juga rerumputan hijau di lapangan sepak bola penuh digenangi air. Di atas rerumputan itulah, sesosok tubuh mengenakan kemeja putih berdasi dan bercelana hitam menengadahkan kepala dengan tangan terangkat tinggi.
      ‘’Tolong aku, Tuhan! Tolong umatmu ini. Meski aku tak pernah sembahyang sejak dua windu, tapi aku masih punya hak untuk meminta pertolongan kepada engkau yang Maha Mendengar,’’ teriakannya semakin mengeras mengalahkan kekerasan gemuruh hujan.
      ‘’Aku masih punya hak, bukan!’’ ada keraguan terselip dari pekikannya kali ini. Begitu ia sadari, waktu dua windu itu bukanlah tergolong cepat. Bila lima dikalikan tiga puluh, dikali dua belas, dan dikali lagi delapan, sudah berapa kali ia tak melakukan semabahyang. Ah, ia merasa dirinya benar-benar tak berharga di depan sang Khalik.
      ‘’Baiklah. Mungkin aku sudah tidak punya hak lagi seperti orang-orang yang rajin sembahyang, selalu mengikhtiarkan kehadiranMu, memuja-mujaMu sepanjang waktu, tapi Tuhan, kepada siapa lagi aku mengadu akan masalah yang tengah aku hadapi sekarang, kepada siapa Tuhan? Selain kepada Engkau!’’ Urat leher lelaki itu mengejang.
      ‘’Aku sudah minta bantuan sama pak Bup, Pak Gub, Pak Men, bahkan Pak Pres pun sudah kupinta tolong. Tapi, mereka semua sama. Mereka semua bilang; itu urusan intern ‘mereka’! Yang bisa menyelesaikan kemelut adalah pihak mereka, sementara kami hanya menunggu tembusan dari ‘mereka’. Begitulah, Tuhan. Begitu ceritanya. Kalau petinggi-petinggi saja tak bisa menolong saya, lalu saya mesti minta tolong sama siapa lagi kecuali petinggi yang lebih tinggi dari petinggi-petinggi tadi. Yaitu, Engkau wahai Tuhanku! Engkau! Aku butuh bantuanMu!’’ Suaranya melengking membelah petir-petir yang seolah mengejek ketidakberdayaan malam.
      Meskipun si lelaki itu menghabiskan seluruh sisa-sisa suara di tenggorokannya, tak ada tanggapan apa-apa dari langit. Kecuali semakin kerasnya gemuruh guntur ditingkahi terpaan angin membekukan malam yang memang sudah dingin. Tapi tunggu, sebuah cahaya kecil menari-nari dibalik awan kelam, gerakannya tak beraturan. Si lelaki menunggu dan berharap dengan takjub. Semoga cahaya itu wujud dari bantuan sang Khalik, demikian harapannya.
      Semakin lama cahaya itu makin membesar, besar, dan besar. Lalu melintas di atas kepala si lelaki jarak beberapa ratus meter dengan gemuruhnya yang luar biasa keras. Seketika itu kekecewaan menyelimuti dada si lelaki yang tengah menutup kedua telinganya. ‘’Ya, Tuhan-ku. Bukan pesawat yang aku pinta! Bukan pesawat terbang, Tuhan!’’ serunya lantang sembari mengepalkan kedua tangan ke atas.
      ‘’Kalau cuma kapal terbang, aku punya beratus-ratus. Bahkan pabrik pesawat-pun aku punya. Aku hanya butuh sedikit bantuan-Mu! Aku butuh kau menyadarkan ‘mereka’! Sadarkan ‘mereka’ betapa aku sangat membutuhkan jasa dari hasil kerja mereka. Hanya Engkau yang bisa menyadarkan mereka, hanya Engkau ya, Tuhan!’’ pekiknya disertai tangis bercampur air hujan.
      ‘’Ya, Tuhan! Aku butuh pertolongan-Mu! Aku sangat membutuhkan keikutsertaan-Mu mengurus masalah terbesar sepanjang perjalanan umat-Mu ini. Tolong aku Tuhan!’’ teriak seseorang dari sudut lain lapangan bola tempat si lelaki bersujud.
Si lelaki menatap heran ke arah sosok asing itu.
      ‘’Sudah putus harapanku, Tuhan. Sudah habis keringatku, Tuhan. Sudah tak bersisa tangisku Tuhan. Namun lagi-lagi aku tak menemui solusi atas masalah ku ini. Sama siapa lagi aku harus mengadu, kecuali pada Engkau! Wahai Tuhanku!’’ gelegar suara orang asing itu tak kalah dahsyat dari pekikan si lelaki tadi. Mungkin bulir-bulir hujan pun bingung mendapati ulah kedua insan tersebut.
      Si Lelaki berjalan menghampiri. Ia berdiri tegak menatap orang asing yang kini tengah duduk bersimpuh. Orang asing tadi terkejut mengetahui dirinya tak sendiri di tengah malam seperti sekarang ini. Sekaligus ia malu pada diri sendiri, karena kemungkinan besar lelaki di sampingnya ini mendengar apa yang tadi ia teriakkan. ‘’Siapa Anda?’’ Orang asing tersebut melontarkan kecurigaan sambil mendirikan tubuhnya.
      ‘’Saya sama seperti Saudara. Orang yang tengah terbentur dalam sebuah kesulitan hingga seperti terjebak dalam jangkar, tak ada jalan keluar ’’ diplomasi si Lelaki.
      ‘’Apa maksud Anda?’’ orang asing terus mengorek lawan bicaranya.
      ‘’Meskipun saya tak tahu masalah apa yang kini tengah melanda Saudara. Tapi kuat perasaan saya kita mengalami nasib yang sama. Barangkali dari segi pemecahannya,’’ tegas si lelaki menyaingi ketegasan deru hujan.
      ‘’Baiklah,’’ Orang asing coba akrabkan diri. Tak ada pilihan lain buat ia, selain mengajak lelaki di depannya bicara. Barangkali saja si lelaki itu utusan dari ‘Yang Maha’ buat mengetahui masalah dia. Cuma itu satu-satunya harapannya.
      ‘’Aku terlalu panik menghadapi masalah kecil buat orang-orang kampung, tapi sangat besar bagi masyarakat perkotaan. Yakni, ketaksediaan air bersih! Padahal hanya dari selang-selang kotor yang sering bocor itulah tempat kami menggantungkan kerongkongan, menggantungkan sabun. Lain halnya dengan orang pedesaan, bisa bebas dapatkan air minum, air mandi, dimana saja mereka suka. Sungai masih mengalir dengan sealir air jernihnya, sumur masih tersenyum menyambut para pemandi, mata air masih berkedip menatap kedatangan penduduk desa. Bahkan, embun masih bersahabat membasahi kelopak daun-daun di taman desa.’’
      ‘’Masalahnya sekarang, sudah sekian bulan terakhir, air ledeng di kota saya tak mengalir. Setetespun tak ada. Coba bayangkan, saya mau cari kemana sumber mutlak sebuah kehidupan itu? Mau cari kemana!’’ gejolak emosinya meledak. ‘’Entah sudah berapa ratus kali aku meminta pertanggungjawaban pihak yang berwenang. Namun tak ada tanggapan sedikitpun dari mereka. Tak ada! Mereka semua seolah tak bertelinga! Mereka menulikan telinga sendiri. Jadi, kalau Anda memang utusan dari ‘atas’. Tolong beri saya solusinya. Saya mohon....’’ ratap si orang asing mengurai air mata.
      Si lelaki yang datang lebih dulu di tempat itu menggeleng kepalanya pelan. ‘’Saya bukan seorang utusan yang Saudara kira. Melainkan seorang yang mempunyai masalah persis sama dengan Saudara,’’ ujarnya pelan.
      Orang asing hentikan tangis, ada kekecewaan dari sudut matanya, sebab lelaki itu bukan utusan seperti yang ia harapkan. ‘’Lantas apa pula masalah Anda?’’ ungkapnya pasrah.
      ‘’Kalau Saudara bermasalah dengan air, saya bermasalah dengan cahaya. Listrik. Mata hati kehidupan era sekarang. Mungkin kalau bisa dibilang, tak ada listrik, tak ada teknologi. Lebih-lebih saya pengusaha besar yang menggantungkan sepenuhnya kepada aliran listrik, namun sialnya gantungan itu patah dikarenakan keseringan padam!’’ rutuk si lelaki.
      ‘’Dan lebih sialnya lagi, tiap kali saya minta pertanggungjawaban ‘mereka’, mereka seolah tak mendengarkan. Sama persis dengan apa yang Saudara alami. Padahal saya selalu bayar rekening tiap bulan, walaupun pernah telat beberapa hari dari batas waktu. Tapi saya selalu tunaikan kewajiban! Kenapa hak saya tidak diberikan! Kenapa!’’ pekiknya tak tertahankan mengejar kilat yang bercabang-cabang diangkasa.
      ‘’Ya, kenapa! Kenapa harus begini, Tuhan! Tolong kami Tuhan!’’ seru orang asing tak mau kalah.
      ‘’Tolong ya, Tuhan!’’ teriak mereka bersamaan. Mengusik kegelisahan malam yang kian gelisah akibat doa mereka berdua. Hujan tak jua mau mengerti, ia meneror bumi dengan bom-bom cair ke atas permukaan tanah dibentengi awan-awan hitam mencekam.
      Semua ketidakramahan alam tersebut tak mempengaruhi dua manusia yang dilanda masalah itu untuk terus berdoa. Sekarang timbul satu pertanyaan, apakah ada yang mendengarkan doa mereka. Doa kita semua......***

2000