"Aku hanya
pembunuh
kematian"
_________
(Monas Jr)

 All about Imajination...
  Sastra dalam rumah-rumah Nusantara.
|Home|About Me| Friends |Mail-me|

Monas Short Stories
(semacam napak tilas):

• Tahun 2000
- Benar-benar Gila
- Doa di Tengah Hujan
- Curanmor

Tahun 2001
- Antrian
- Cincin
- Durian

- Kubus
- Kucing Belang
- Lalat-lalat Hijau
- Mati Suri
- Negeri Apa
- Potret
- Robot
- Saling Bantu
- Sepotong Lengan
- Surat Putih
- Terbang
- Vampir

Tahun 2002
- Demo Para Monyet
- Impas
- Isteri
- Kita
- Kasihku Seorang Barbar
- Kematian Damai
- Lelaki Tak Pernah Tidur
- Stum Palalo


Tahun 2003
- Apa yang Kau Lihat
- Cermin-cermin Bicara
- Huek!

- Kristal-kristal Gula
- Para Pendusta
- Pengecut
- Sampan
- Tanpa Tanda Kutip
- Tahi Lalat
- Rindu Ikan...

Tahun 2004
- Cyberlovetika

Tahun 2005
- Termurah
- BBM

Jambi Province
- All about Jambi

Filsuf
- Beberapa nama

My Book


Curanmor

Oleh : Monas Junior


    ''Permisi pak, kasihanilah kami yang miskin ini. Sudah hampir dua hari tidak makan, pak. Kasihanilah kami...'' Seorang pengemis berkata memelas kepadaku. Aku mengamati pasat-pasat raut muka si pengemis yang menggambarkan wajah orang susah.
    Tampang pengemis itu lusuh, baju kumal yang ia kenakan seperti tidak pernah terjamah deterjen. Tak jauh beda dengan topi anyaman rotan di kepalanya, begitu kumuh tak terlukis berapa banyak sabun harus dihabiskan untuk membersihkannya. Tubuh pria kurus itu hanya tinggal tulang dengan kulit hitam legam. Di sekujur tangannya masih tersisa bekas luka yang besar berwarna putih melebar.
    ''Kasihani saya, pak...'' Kembali ia memelas. Kini disertai air mata bening mengalir dari sudut matanya.
    Menurut pengatamanku umur lelaki ini belum begitu tua. Empat tiga, atau empat limaan barangkali. Tapi dari rahinya seperti orang berumur tujuh puluh tahun! Perbedaan mencolok adalah dari cara berdirinya yang masih kokoh, tidak bungkuk.
    ''Silahkan duduk, pak...'' tawarku kepada lelaki di depanku itu. Keningnya sedikit berkerut mendengar tawaran yang baru keluar dari mulutku. ''Silahkan duduk,'' kataku hampir berkesan perintah. Masih dengan ekspresi seperti tadi ia perlahan-lahan mendudukkan pantatnya di kursi depanku. Sementara para pengunjung rumah makan tempat sekarang aku berada, menoleh heran kearah aku dan pengemis. Entah apa yang ada di dalam benak mereka, yang pasti mereka punya sejuta pertanyaan atas ulah ku sekarang. Bagiku itu hal yang biasa, toh manusia itu yang besar adalah rasa keingintahuannya!
    Sejujurnya aku tidak mengerti juga kenapa aku begitu tertarik dengan lelaki gembel didepanku ini. Sampai-sampai aku menyuruh dia duduk di hadapanku kini. Tapi, yang pasti aku ingin mengorek segala cerita yang ada di benak lelaki separuh baya ini. Karena aku adalah seorang penulis. Sepertinya ia benar-benar obyek yang bagus untuk dijadikan bahan tulisan, meskipun sudah banyak penulis-penulis lain yang membuat tema kemiskinan sebagai bahan tulisan mereka.
    Tapi itu tak soal bagiku, aku tidak bermaksud meletakkan ia sebagai obyek belaka, sebagai simbol, atau sebagai media untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tidak. Aku hanya ingin mengikuti apa kata hatiku, naluri kemanusiaan yang merasa prihatin terhadap sesamanya yang mengalami nasib tidak menguntungkan seperti posisi si pengemis sekarang ini. Andai ia bisa berteriak sekencang mungkin, ia pasti meminta dirinya dianggap sebagai manusia sederajat dengan orang lain yang bisa tertawa disaat suka, menangis disaat suka, dan merenung disaat sendiri. Mereka sekarang hanya bisa melakukan dua hal saja dari tiga kebutuhan pokok insan manusia, menangis dan merenung. Selalu dan selalu begitu. Walau detik-detik waktu mengiringi reruntuhan daun dari akar, walau iliran angin membawa sampah berserakan, kaum pengemis selalu berjalan dengan kepala menunduk tak mampu menatap orang sebangsa mereka. Dan ini harus segera dibenahi wahai alat pemerintah!
    Oleh sebab itu, aku mengajak lelaki ini bicara. Setidak-tidaknya membantu mengeluarkan unek-unek yang selama ini menghantui alam bawah sadarnya, dan kalau mungkin, aku ingin membantu ia sebisaku sebatas proporsi penulis.
    Warung ini semakin ramai, kepulan uap dari dalam sup yang kini tengah disantap lahap oleh pengemis terbang menyentuh atap genteng. Denting sendok bertemu piring di hadapan pengemis begitu keras. Tuhan, ia benar-benar lahap menyantap sup itu! Ia benar-benar lapar, Tuhan! Apakah ada orang yang peduli akan kelaparan yang mereka rasakan, apakah ada yang mengerti akan kedahagaan mereka, apakah ada yang paham akan kesulitan mereka untuk makan satu hari saja. Apakah ada, Tuhan?
    Aku sungguh terharu menyaksikan cara ia makan. Dalam hati kecilku terbersit rasa syukur mendalam karena bisa menolong orang kelaparan ini, walau itu hanya berupa semangkuk sup ayam.
    ''Terima kasih banyak, nak. Aku tak tahu harus dengan cara apa berterima kasih karena telah memberi aku semangkuk sup ayam. Ini sangat berarti bagi ku,'' ucap pengemis itu sambil mengeluarkan air mata keharuan. ''Seumur hidupku, baru kali ini ada orang yang menghargai aku sebagai manusia,'' ujarnya lagi.
    Aku hanya bisa tersenyum haru melihat sikap pengemis itu. Dari cara bicara dan penyusunan kata-kata dia, sepertinya ia orang terdidik. ''Tak usah terlalu dipikirkan, pak. Aku hanya bisa membantu sebatas ini saja,'' timpalku.
    Pengemis itu menurunkan topinya dari kepala. Lalu meletakkan di atas meja. Aku membuka sebungkus rokok, untuk kemudian menyulut sebatang. Setelah itu aku tawarkan kepadanya, dengan tangan kanan ia menarik sebatang dari dalam bungkus di tanganku.
Entah sudah berapa menit kami diam sambil merokok. Asap tebal mengepul memenuhi ruangan warung. Sementara pengunjung yang tadi berbarengan dengan aku masuk ke dalam warung ini, telah meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan beberapa pengunjung lain, mereka telah siap pergi dari tempat ini.
    Bosan dengan keadaan, akhirnya aku memutuskan untuk memulai pembicaraan lebih dulu,     ''Bapak tinggal dimana?''
    ''Di hotel,'' ujarnya singkat.
    ''What! Hotel?!''
    ''Ya, hotel. Kami biasa menyebutnya dengan hotel hidrant.''
    Aku semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkan pengemis itu. Tapi sebelum aku menanyakan lebih lanjut ia telah menerangkan hotel hidrant yang ia maksud. Ternyata itu adalah istilah emperan bagi mereka, hidrant yaitu sejenis saluran air yang digunakan suatu waktu jika ada kebakaran, letak hidrant biasanya di emperan jalan. Maka itu mereka menamakan emperan dengan hotel hidrant. Biar lebih enak didengar, mungkin begitu.
''Lalu keluarga bapak sekarang ada di mana?''
''Saya belum berkeluarga. Hidup di kota ini bermodal nekat, bagaimana ada gadis yang mau dengan saya ini, nak.''
''Di kampung?''
    ''Sama. Tidak ada. Saya masih bujangan. Tulen!'' Promosi nya.
    Kemudian kami bercakap-cakap mengenai apa saja yang kami ingat layaknya sepasang kawan yang telah lama tak jumpa. Kiranya lelaki kumuh di depanku ini pintar bicara juga, kata-katanya lugas, kalimatnya jelas, itu karena ia pernah mengikuti kuliah di salah satu perguruan tinggi di kampungnya, tapi keburu di do akibat tak mampu bayar uang kuliah, demikian tutur pengemis itu padaku.
    Setiap kata yang keluar dari mulut si pengemis aku catat dalam pikiran, untuk kemudian mulai menyusun alur demi alur hingga membentuk sebuah cerita. Tentu saja sambil terus mengajak ia berkisah.
    Rokok telah habis, pengunjung toko ini pun hampir habis. Di luar sana matahari tergelincir perlahan di singkirkan kegelapan malam yang kian kelam. Burung layang-layang berterbangan liar kesana-kemari hinggap di atas kabel di atas jalan raya. Sesekali burung-burung itu terpaksa terbang menjauh akibat dilempari anak-anak jalanan yang tidak sholat maghrib.
    ''Sekarang bapak mau kemana?'' tanyaku kepada si pengemis yang mulai berdiri dari duduknya.
    ''Mau pulang,'' ujarnya singkat.
    Ada makna semu dari kata pulang yang telah diucapkannya. Karena aku tahu, ia tidak punya tempat berteduh apalagi tempat tinggal layaknya sebuah rumah. Mau pulang kemana dia.
    Aku mengikuti gerakan si pengemis menuju pintu keluar setelah menyelesaikan urusan dengan kasir toko. Jalannya tertatih-tatih dengan tongkat kayu menopang sebelah kakinya yang patah. Tetapi entah kenapa aku begitu ingin mengikuti jejak langkah si pengemis, mungkin karena aku ingin tahu kehidupan malam yang dilalui si pengemis. Aku ingin tahu banyak apa saja kegiatan lelaki tua itu menjelang pagi tiba.
    Sesampai di tikungan jalan, aku kehilangan jejaknya. Ia seolah-olah raib di telan gang-gang sempit. Karena itu aku terus mencari dia. Di gorong-gorong air, di sela-sela gang, di balik mobil-mobil yang terparkir seperti tak ada pemilik. Dan pada saat itu aku mendengar teriakan histeris dari suara yang rasanya aku kenal. 'Tolooooong!!''
    Aku segera memburu asal suara itu. ''Toloooong!! Toloooong!! Maliiing!'' Teriakan itu semakin kencang membawa aura kekalutan pemilik suara. Belum sampai aku di tempat asal suara, tiba-tiba sebuah motor jenis bebek melesat tepat beberapa senti di depan kakiku untung aku sempat mengerem langkah ku, kalau tidak mungkin aku sudah terbaring di rumah sakit, berteman selang-selang infus dan perban-perban putih dengan beberapa poles obat luka juga senyum sinis para perawat yang telah kecapaian berjaga sepanjang malam. Ya, untunglah.
    Brakk!!
    Kali ini tubuhku telak ditabrak sesuatu. Aku roboh dengan sukses di atas aspal dingin.     Sementara sesuatu yang menabrakku tadi telah berlari meninggalkan aku sendiri di aspal ini. Saat itu juga pikiranku terbang ke apotik terdekat untuk membeli obat luka yang semakin hari semakin meninggi harganya, padahal uang di dompet hanya tinggal beberapa ratus, cukup untuk ongkos dari sini ke rumah.
    ''Sial! Siapa yang tadi menabrakku. Aku harus meminta pertanggungjawaban darinya!'' rutukku kesal. Untuk kemudian aku telah melesat mengejar sesesuatu yang ternyata seseorang menabrakku barusan.
    Sampai di seberang jembatan, aku melihat seorang tengah menangis tersedu-sedu. Dan dari mulutnya keluar kata-kata makian, ''Maling bangsat. Kenapa kau paling satu-satunya motor milikku! Kenapa tidak motor orang lain saja, orang yang punya seribu motor, seratus mobil! Kenapa harus kepunyaanku. Huu huu huu,'' omelnya getir. ''Dasar maling bangsaaat!!!'' Usai meneriakkan makian, sebuah batu terbang menghampiri tempat aku berdiri.
    Dari hati aku benar-benar kasihan melihat kemalangan yang baru dialami si lelaki tepi jembatan itu. Lalu aku coba mendekatinya. ''Ada apa, bung?'' tanyaku berusaha sehalus mungkin agar ia tidak tersinggung.
    Ia menyeka sisa air mata dari kedua pelupuk matanya, kemudian menatap wajahku. ''Motorku di curi orang. Motorku..'' kata-kata itu putus. Aku menunggu kalimat berikut dari mulut lelaki tersebut sambil mereka-reka siapa sebenarnya pria ini. Kok sepertinya aku pernah mendengar suaranya.
    Dari arah belakangku, sebuah mobil melintas pelan, lampu dari mobil itu menyirami wajah lelaki di hadapanku kini.
    Astaga! Ternyata, ternyata lelaki ini adalah pengemis yang tadi bicara panjang lebar denganku. Sial, aku telah ditipu oleh orang ini. Katanya hidupnya serba susah, makan sehari saja sulitnya bukan main, eh sekarang malah kehilangan motor. Apa itu bukan kurang ajar namanya.
    Wajah lelaki itu berubah pucat begitu mengenali mukaku. Sebelum aku berbuat lebih jauh, ia telah terbang dengan kaki normalnya meninggalkan aku di tepi jembatan ini.***

Jambi Kota, 2000