"Aku hanya
pembunuh
kematian"
_________
(Monas Jr)

 All about Imajination
  Sastra dalam rumah-rumah Nusantara.
|Home|About Me| Friends |Mail-me|

Monas Short Stories
(semacam napak tilas):

• Tahun 2000
- Benar-benar Gila
- Doa di Tengah Hujan
- Curanmor

Tahun 2001
- Antrian
- Cincin
- Durian

- Kubus
- Kucing Belang
- Lalat-lalat Hijau
- Mati Suri
- Negeri Apa
- Potret
- Robot
- Saling Bantu
- Sepotong Lengan
- Surat Putih
- Terbang
- Vampir

Tahun 2002
- Demo Para Monyet
- Impas
- Isteri
- Kita
- Kasihku Seorang Barbar
- Kematian Damai
- Lelaki Tak Pernah Tidur
- Stum Palalo


Tahun 2003
- Apa yang Kau Lihat
- Cermin-cermin Bicara
- Huek!

- Kristal-kristal Gula
- Para Pendusta
- Pengecut
- Sampan
- Tanpa Tanda Kutip
- Tahi Lalat
- Rindu Ikan...

Tahun 2004
- Cyberlovetika

Tahun 2005
- Termurah
- BBM

Jambi Province
- All about Jambi

Filsuf
- Beberapa nama


Saling bantu
Oleh : Monas Junior

Di beranda rumah bercat putih, duduk seorang lelaki tua dengan rambut telah memutih kursi malas. Sambil bergoyang-goyang ia membolak-balik koran pagi terbitan daerah. Mulutnya berkomat-kamit sementara kepalanya sesekali menggeleng.
''Dimana-mana masalah KKN masih dan selalu saja dipeributkan. Ya, di tivi, radio, maupun di koran-koran. Apa tak ada berita lain?!'' omel si lelaki tua, sambil menghempas koran di tangannya ke atas meja.
Dari arah belakang si bapak, seorang wanita separoh baya menghampirinya dengan membawa baki berisi segelas kopi dan sepiring roti kering. Ia meletakkan baki itu di meja depan si bapak. Setelah mengeluarkan gelas dan piring dari nampan, wanita tersebut mengambil duduk di samping si bapak.
''Ada apa, Pak? Kok, ngomel-ngomel sendiri...'' tegur wanita tadi yang tak lain isteri si bapak penuh perhatian. Sementara yang ditegur tidak mengeluarkan suara namun langsung meniup kopi panas dalam gelas untuk kemudian menyeruput dengan pelan.
Setelah meletakkan gelas, si bapak memandang isterinya sekilas, ''Ini loh buk. Yang diberitakan media massa selaluuuuu saja mengenai ka-ka-en. Korups, kolusi, nepotisme. Mbok yo, sesekali itu soal kuliah kerja nyata, atau berita-beita positif lainnya yang diangkat gitu. Seolah-olah di negara kita ini cuma ada kebusukaaaaan saja! Lantas kebaikan mau ditaruh dimana?!'' protes si bapak entah ditujukan kepada siapa.
''Bapak, bapak. Seperti tidak tau saja. Sifat manusia kan memang begitu. Senang membicarakan keburukan orang lain, tapi keburukan sendiri dilupa-lupakan,'' isterinya menimpali protes si bapak.
''Iya, ya buk. Namun buk, masalah ka-ka-en ini, terutama yang namanya kolusi itu masalah yang paling rumit untuk dipecahkan. Mungkin karena pelaksanaannya terselubung, rahasia, hingga sulit untuk dicium.'' Si Bapak kembali meneguk kopi. ''Terus terang, selama bapak bekerja sebagai pegawai negeri, meskipun gaji kecil, Bapak tidak pernah melakukan praktek kolusi . Dan ibu kan tau sendiri...''
''Iya.... Dan karena itu pula, ibu bangga bersuamikan Bapak...'' ujar isterinya sambil melirik. Bapak yang dilirik tertawa pelan.
''Ah, ibu bisa saja....'' Katanya senang. ''Oh, iya. Si Anton sudah siap, Buk? Soalnya sebentar lagi kan magrib. Nggak enak bertamu ke rumah orang maghrib-maghrib, pamali,'' Bapak itu melanjutkan. Kepalanya menoleh ke arah pintu masuk.
''Sebentar lagi juga keluar, pak. Soalnya tadi ibu lihat ia lagi mandi, dan mungkin sekarang sedang berpakaian,'' kata isterinya.
Kembali si bapak mengangkap gelas dan menyuruput kopi yang mulai dingin ke dalam tenggorokannya. ''Kalau Anto jadi angkatan, kita pasti bangga ya buk. Selain itu kita juga bakal disegani orang-orang sekampung. Mereka akan bilang ; wah si Anto anaknya Pak Giman sudah jadi tentara. Kemarin dia pulang bawa mobil dinas, lagi. Benar-benar hebat Bapak dan Ibu Giman.'' Si Bapak berang-angan. Sedang isterinya tersenyum sendiri ikut membayangkan hasil yang akan mereka nikmati jika anaknya lulus ter masuk angkatan.
''Uangnya sudah disiapkan, Buk?'' Perkataan Pak Giman memutus lamunan si Ibu.
''Sudah. Ini, pak...'' Bu Giman menyerahkan amplop kuning yang berisi sejumlah uang kepada Pak Giman. Setelah ampol tersebut berpindah tangan, Bu Giman ragu-ragu berucap ; ''Pak, apa ini bukannya termasuk kolusi?''
''Tentu saja bukan, Buk. Rupanya ibu ini belum paham dengan apa yang dimaksud kolusi. Begini, kolusi itu adalah suap menyuap antara bawahan dengan atasan, maupun sebaliknya. Bawahan menyuap agar cepat naik pangkat, sementara si atasan menyuap agar tetap berada di jatabannya. Jadi yang kita lakukan sekarang bukan termasuk kolusi. Melainkan saling bantu. Kita membantu dia dengan keuangan, di pihak dia membantu kita dengan meluluskan si Anton masuk angkatan. Istilahnya, tolong menolong, lah....'' Terang Pak Giman meyakinkan isterinya.
''Oooo...'' Hanya itu yang keluar dari mulut Bu Giman.
Tak lama, seorang pria bertubuh kurus tinggi keluar dari ambang pintu, ia mendekati Bapak dan Ibu Giman. ''Bu, Anton pergi dulu...'' katanya. Lalu Pak Giman berdiri, kemudian menyusul anaknya yang berdiri di luar berada.
''Kami pergi, Buk. Nanti sebelum maghrib kami pulang...''
''Iya, Pak. Hati-hati di jalan....'' Pesan Bu Giman.
''Pergi, Buk...'' seru Anton.
''Ya....''
Pak Giman dan anaknya berjalan menyusuri jalan desa yang kering berdebu menuju rumah orang yang akan mereka ''bantu''. ***

Jambi 2001