"Aku hanya
pembunuh
kematian"
_________
(Monas Jr)

 All about Imajination
  Sastra dalam rumah-rumah Nusantara.
|Home|About Me| Friends |Mail-me|

Monas Short Stories
(semacam napak tilas):

• Tahun 2000
- Benar-benar Gila
- Doa di Tengah Hujan
- Curanmor

Tahun 2001
- Antrian
- Cincin
- Durian

- Kubus
- Kucing Belang
- Lalat-lalat Hijau
- Mati Suri
- Negeri Apa
- Potret
- Robot
- Saling Bantu
- Sepotong Lengan
- Surat Putih
- Terbang
- Vampir

Tahun 2002
- Demo Para Monyet
- Impas
- Isteri
- Kita
- Kasihku Seorang Barbar
- Kematian Damai
- Lelaki Tak Pernah Tidur
- Stum Palalo


Tahun 2003
- Apa yang Kau Lihat
- Cermin-cermin Bicara
- Huek!

- Kristal-kristal Gula
- Para Pendusta
- Pengecut
- Sampan
- Tanpa Tanda Kutip
- Tahi Lalat
- Rindu Ikan...

Tahun 2004
- Cyberlovetika

Tahun 2005
- Termurah
- BBM

Jambi Province
- All about Jambi

Filsuf
- Beberapa nama

My Book


Vampir

Cermin: Monas Junior

Malam di pelabuhan kapal laut, seperti rumah tak berpenghuni. Disana-sini tak terdengar bunyi terompet kapal yang biasa menemani keramaian suasana di pelabuhan ini, belum lagi teriakan para penumpang berdesak desak menjejal tubuh dan bawaan mereka agar bisa terangkut menuju pulau seberang, ditambah rentetan mobil angkutan berbagai ukuran juga berjejel mencari peluang agar bisa masuk pada salah satu kapal diantara sekian banyak kapal di dermaga. Tapi, sekarang semua itu benar-benar tak tampak. Ya, penumpang. Ya, mobil-mobil. Ya, kuli-kuli. Bahkan tak satu kapal pun terikat di dermaga. Yang ada hanya kegelapan menyelimuti, seperti selimut abadi, menelan pelabuhan ini tanpa ampun!

Desir-desir ombak terhempas dinding dermaga, semakin mencekam suasana. Di atas beberapa juta kilometer, sebuah bulatan besar takut-takut mengintip dari sela-sela awan hitam. Sesekali tampak, sesekali tidak. Lihat, bahkan bulan pun ngeri melihat kesunyian di pelabuhan ini!

Tapi, tunggu! Sorotan cahaya dari balik peti kemas seketika menerangi. Lambat-laun cahaya itu semakin jelas bergerak-gerak dan ternyata berasal dari sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mendekati dermaga.

Ciiit! Mobil tersebut persis berhenti beberapa senti dari bibir dermaga. Tak lama kemudian seorang lelaki bertubuh tinggi besar bermantel hitam keluar dari mobil hitam tersebut. Gerakan lelaki itu agak mencurigakan, ia seperti tergesa-gesa mengeluarkan barang dari dalam mobilnya sampai-sampai ....''Aduh!'' pekik lelaki itu begitu kepalanya terbentur pintu atas mobil. Tapi itu tak membuat gerakannya terhenti.

Dengan beberapa gerakan lagi, ia telah memadamkan mobil, menutup pintu, lalu mendorong mobil tersebut ke depan. Dan... byur! Mobil sedan mewah tersebut sukses karam ke dalam mulut laut yang menganga. Dapat dibayangkan betapa senangnya jika seseorang atau beberapa orang penyelam menemukan barang berharga seperti itu. Ibarat mendapat durian runtuh!

Sambil duduk diatas gundukan pengikat tambang, lelaki tinggi tersebut menatap jauh kedepan. Seperti menanti seseorang atau sesuatu atau... ah entahlah!
''Ada yang ditunggu, Pak?!'' vokal dari orang asing mengejutkan si lelaki.

Dengan gerakan sigap, ia membalik tubuhnya dan menemui wajah kumal dari sosok yang juga seorang lelaki. Namun perbedaan diantara mereka begitu kentara, dimana lelaki kumal tersebut mengenakan topi sobek, jaket sobek, celana sobek, bahkan sepatunya pun sobek hingga jari-jari kakinya yang legam mengintip dari sobekan sepatu itu.

Tapi dengan sikap acuh, ia duduk disamping kiri bawah lelaki bermantel. Dan masih dengan acuh ia menatap langit kelam sambil berdecak-decak. Sementara lelaki bermantel masih terus mengawasi penuh curiga.

''Kenapa malam ini tak bersahabat. Apa karena didunia ini tak ada lagi nilai-nilai persahabatan hingga alam pun tak bisa menunjukkan wajah persahabatannya?'' monolog si gembel - sebutan ini pantas buat lelaki kumal tersebut - mendekati desisan yang tak perlu tanggapan.

Memang, lelaki bermantel seperti malas menanggapi desisan si gembel. Sebab ia terlalu curiga dengan orang asing disebelahnya ini. Tapi kalau ia mau jujur, buat apa curiga. Sebab kecurigaan tak beralasan adalah wujud dari ketakutan tanpa sebab. Dan hanya orang-orang bersalah yang merasa takut untuk menghadapi keasingan di hadapannya.

''Apa masih ada nilai-nilai murni dari arti sebuah persahabatan, kekeluargaan, perseaudaraan bila semua itu dipencundangi oleh nafsu kemanusiaan? Apakah masih ada?'' si gembel meneruskan monolognya.

''Saya rasa sudah sulit mencari kemurnian itu pada zaman gila seperti sekarang ini.'' Sambut lelaki bermantel tiba-tiba. Akhirnya pecah juga kecurigaannya, setelah ia mendalami makna dari kata-kata satu arah si gembel. ''Sekarang yang dinilai bukan dari kemurnian persahabatan, persaudaraan, kekeluargaan melainkan siapa yang punya harta, siapa yang punya kuasa, dan siapa yang punya banyak wanita. Selain dari itu tidak ada! Sekali lagi tidak ada!'' ada tekanan dari kalimat terakhir yang terlontar dari mulut lelaki bermantel.

Mata si gembel melirik sekilas ke wajah lelaki bermantel tersebut. Untuk kemudian kembali matanya menerawang tanpa fokus yang jelas. ''Lalu siapa yang pantas disalahkan?'' sambung si gembel.

''Tidak ada.''

''Kenapa tidak?''

Hembusan nafas berat terdengar keluar dari hidung Lelaki bermantel. ''Saya sendiri tidak tahu...'' katanya kehilangan kata-kata.
Senyum tipis terukir dari sudut bibir si gembel. ''Rasanya saya tahu...'' selanya masih tersenyum.

''Anda tahu?!'' heran si lelaki bermantel. Keheranan itu sepertinya beralasan. Sebab tak ada yang bakal tahu siapa dalang dari ketimpangan moral yang tengah dilanda manusia di bumi ini. Bahkan profesor sosiologi sekalipun!

''Ya, saya tahu sekarang,'' sekali lagi si gembel memekik.
''Lantas siapa dia? Siapa dalangnya. Siapa yang mesti disalahkan? Siapa?!''
''Saya tahu... Anda kan Tuan Vampir, tahanan Penjara Neraka yang melarikan diri itu?! Ya saya tahu, saya tahu siapa anda!'' pekik si gembel sekali lagi.

Sontak muka si lelaki bermantel memerah, ada getaran ketakutan di balik mata angker itu yang makin lama ikut memerah hingga bulatan hitam matanya kini telah berubah merah membara. ''Bagaimana kamu bisa yakin bahwa saya adalah orang yang kamu maksudkan?'' ucapnya dengan nada bergetar. Sementara wajahnya semakin beringas seolah ingin menerkam bulat-bulat tubuh kumal disampingnya.

Namun, lelaki kumal itu tak terpengaruh sama sekali dengan perubahan sikap orang disebelahnya. ''Karena wajah anda terpampang di setiap perempatan jalan, tiang-tiang listrik, taman kota, loket-loket tol, bahkan masjid-masjid, gereja-gereja, pemakaman, bandara-bandara, pelabuhan dan semua-semua yang bisa ditempeli kertas bertuliskan BURONAN pasti ada wajah anda disana....''

Sekali ini lelaki bermantel berdiri tiba-tiba. Lalu menatap lekat-lekat kepada si gembel, seketika itu keanehan terjadi pada wajah si lelaki bermantel yang disebut Tuan Vampir oleh si gembel. Dua buah gigi taring atas perlahan-lahan tumbuh menjulur ke bawah melebihi bibirnya, sementara matanya semakin menyala, kuping nya melebar ke atas, kini wajah si Tuan Vampir sempurna mengerikan! Dan dengan langkah berat ia mendekati si Gembel sampai kakinya menyentuh punggung si gembel .

Si gembel memalingkan kepala dan menatap wajah Tuan Vampir. Belum sempat berkata-kata, lehernya telah dicekik oleh Tuan Vampir. Saking kerasnya ia kesulitan bernapas. ''Kamu pikir bisa menangkap aku, wahai gembel bodoh. Jangan kan kau, orang pintar, angkatan, pegawai biasa, bahkan kroco-kroco inteligen pun tak akan mampu menangkap aku. Dan satu hal yang mesti kau pahami, aku paling tidak suka orang yang sok tahu seperti kamu ini. Ketahuilah, semakin banyak kau tahu sesuatu, semakin banyak resiko yang akan kau hadapi atas apa yang kau ketahui itu...'' geram Tuan Vampir sambil terus mencekik si gembel.

Huaaaaaaaah. Si gembel membuka mulut lebar-lebar dan menghembuskan napas keras-keras, spontan Tuan Vampir melepas cekikan tangannya sebab ia mencium bau bawang putih dari napas yang dikeluarkan si Gembel. Ia surut beberapa langkah. Sementara si Gembel mengurut-ngurut lehernya yang masih terasa sakit.

''Dengar! Aku tak peduli siapa kamu, apa masalahmu, dan apa maumu. Aku juga mengerti ketakutan yang kau alami sekarang. Tapi dengar! Aku sama sekali tidak berniat menangkap kamu! Sekali lagi aku katakan, Tidak!'' keras dan lantang suara si Gembel menghardik.

Dahi Tuan Vampir berkerenyit. Namun ketegangan masih membayang di wajahnya. ''Maksudmu?''

''Kan sudah jelas. Aku tak akan menyerahkan kamu pada pihak berwajib. Dan itu saya rasa sudah sangat jelas buat kamu.''

Kini wajah Tuan Vampir agak mengendur. Namun malah otaknya yang menegang memikirkan apa sebab si Gembel tak mau menangkap dia, padahal dia adalah buronan besar, napi kawakan, tahanan luar biasa yang melarikan diri. Dan siapa saja yang berhasil menangkap dirinya pantas mendapat imbalan dengan nilai tak terkira. Lantas kenapa mesti orang susah seperti gembel ini tidak punya niat secuil pun untuk menangkap dirinya.

''Dalam kehidupan di alam fana ini semua telah tergariskan dengan jelas. Dan saya lebih senang memandang hidup ini sebagai satu jalan panjang. Ada yang ke kanan, kekiri, berbelok, naik, turun, rusak, bagus dan penuh liku. Begitu juga anda dan saya. Anda seorang buronan besar, dan saya adalah orang miskin terbesar. Itu juga sudah tergaris dari sana. Oleh Dia...'' ujar si gembel tanpa cemas sedikitpun bakal dicekik kembali oleh Tuan Vampir.

''Apakah kau tak takut sama aku! Aku ini penghisap darah, bagaimana kalau darah kau kuhisap sampai habis! Ha!'' hardik Tuan Vampir menggertak.

''Tidak. Aku sudah bosan melihat vampir. Karena dunia ini adalah vampir, saling menghisap satu sama lain. Sipintar menghisap si bodoh, si kaya menghisap si miskin, si pejabat menghisap rakyatnya, si penjaga menghisap yang dijaganya.

Bahkan sekarang bapak sering menghisap darah anak gadisnya. Begitu juga dosen-dosen tak jarang menghisap darah mahasiswanya sendiri. Fenomena apa ini? Selain kebrutalan menjurus vampirisme. Semua adalah vampir. Vampir tak berwujud, apalagi anda ini yang benar-benar vampir. Nyata. Inilah anda si penghisap darah, meskipun saya tidak tahu darah apa yang suka anda hisap. Tapi yang jelas, bukan tipe darah orang-orang semacam saya,'' lugas dan jelas Si gembel berargumen.

Dalam hati Tuan Vampir bergumam, ''Rupanya si gembel ini pintar bicara juga, dan rasanya tidak pantas dia berada di daerah semacam ini. Pantasnya ia berada di depan simposium, forum diskusi, atau bahkan di depan para cendikiawan berwawasan luas.'' Tuan Vampir kembali duduk di samping si Gembel, lalu ikut menatap panorama malam yang makin kelam.

''Anda tinggal dimana saudara... emm...'' pancing Tuan Vampir agar si gembel menyebut namanya. Namun si gembel hanya diam tanpa respon.
Tuan Vampir menatap si gembel. ''Apakah saudara punya nama, atau julukan atau apalah agar kita lebih enak bicara. Karena terus terang saya suka cara berpikir anda yang sama sekali bertolak belakang dengan keadaan anda.''

''Saya sudah lama tak punya nama....''

Mata Tuan Vampir mengerling kepada si Gembel. Dan tanpa diminta, Si Gembel menerangkan apa yang ada dalam pikiran Tuan Vampir.

''Sejak profesi saya mengharuskan saya mengabaikan nama, jenis kelamin, kodrat, kedudukan, asal usul, bahkan orang tua.''

''Lalu apa profesi anda?''

''Pengemis, kadang-kadang kuli bangunan, juga terkadang pemulung di tempat pembuangan akhir.''

Tampaknya jawaban si Gembel tak membuat Tuan Vampir terkejut, karena ia sudah menebak siapa adanya si Gembel--bahkan mungkin pembaca pun sudah bisa menebak apa profesi si lelaki kumal itu--.

''Begini saja. Bagaimana kalau saya memberi anda sedikit uluran rezeki agar anda bisa melepas profesi yang kini anda geluti, misalnya jadi guru atau instruktur pidato...''

Gelengan kepala si Gembel sudah bisa menjawab tawaran Tuan Vampir barusan.

''Ya, saya akan membangun sekolah pidato disini, dan andalah yang saya percayakan untuk mengelolanya.''
Lagi-lagi si Gembel menggeleng.

''Baik. Sekarang katakan kepada saya apa yang harus saya lakukan untuk membantu anda....'' akhirnya Tuan Vampir menyerah.

Pelan kepala si gembel menghadap Tuan Vampir. ''Lupakan saya,'' ujarnya singkat. ''Biarkan saya menjalani hidup saya, dan anda meneruskan hidup anda. Karena kita telah digariskan untuk berada pada posisi dan proporsi berbeda. Anda tidak dapat membawa saya pada gaya hidup anda, dan anda tidak berhak mencampuri gaya hidup saya, karena itu adalah kesalahan besar dari satu sistem kehidupan. Biarkan sistem ini terus berjalan semestinya. Lagian anda masih banyak pekerjaan ketimbang harus memikirkan orang-orang seperti saya, seperti yang dilakukan oleh sekumpulan orang semacam anda,'' lanjutnya lagi.
Tak ada tanggapan dari Tuan Vampir. Ia hanya menghirup nafas dalam-dalam sambil menghayati ucapan si gembel.

''Saya salut akan anda Pak Gembel. Bolehkan saya memanggil anda dengan Pak Gembel.''

''Tentu saja.''

''Saya salut karena dari sekian banyak orang yang pernah bertemu dengan saya sebagai pelarian, hanya andalah orang pertama menolak pemberian saya,'' pengakuan tulus dari Tuan Vampir.

Pembicaraan seketika berhenti ketika sebuah sekoci membawa bercahaya lampu templok mendekati dermaga. ''Jemputan anda telah tiba, Tuan Vampir...'' kata si gembel.

Benar saja, dua orang turun dari perahu kecil dan berjalan ke arah Tuan Vampir. ''Tim penjemput telah siap, Pak. Silahkan naik,'' ujar salah seorang berbadan kekar kepada Tuan Vampir sambil melirik curiga kepada si gembel.

Tuan Vampir hanya tersenyum penuh arti. ''Saya tak butuh jemputan,'' ucapnya, seketika membuat dua orang tersebut terkejut bukan main.

''Bagaimana bapak ini. Jauh-jauh hari bapak telah menyewa kapal selam termahal guna melancarkan pelarian bapak, dan kami menyanggupi menjemput bapak walau dengan resiko apapun. Tapi kenapa sekarang bapak tidak mau berangkat?!'' nada protes dari salah seorang penjemput.

''Apa karena si kumal satu ini, yang membuat pikiran bapak berubah?'' sinis penjemput yang lain menatap sinis si gembel, sementara yang ditatap diam tak bergeming.

''Jangan banyak komentar! Kalian harus tahu kalian ini siapa. Ingat saya menggaji kalian bukan untuk memprotes keputusan yang saya buat. Saya menggaji kalian untuk melakukan apa yang saya perintahkan, selebihnya bukan urusan kalian! Mengerti!'' hardik Tuan Vampir membungkam kedua penjemput tersebut.

''Saya ulangi sekali lagi, saya tidak ingin pergi. Kalian sekarang boleh pergi dari sini, jaga diri kalian sendiri, dan bawa ini untuk pegangan. Tapi jangan lupa berikan kepada rekan-rekan yang lain,'' setelah berkata demikian Tuan Vampir menyerahkan kopor hitam yang sedari tadi tersembunyi dalam mantel hitamnya.

''Setelah itu, kalian boleh mencari pekerjaan lain. Lupakan saya, anggap saya masa lalu yang tak perlu dikenang. Kalian masih punya masa depan karena kalian masih muda dan punya banyak jalan menuju kebenaran. Karena itu, pergilah,'' tutup Tuan Vampir kepada kedua lelaki penjemputnya.

''Tapi, pak...'' seru mereka hampir berbarengan.

''Tidak ada tapi!'' tegas Tuan Vampir.

Kedua orang itu tertunduk. ''Kalau memang itu keputusan Bapak, kami bisa mengerti. Dan kami berdua banyak berterima kasih kepada bapak yang selama ini telah memelihara kami seperti anak sendiri, dan memberi kami kehidupan lebih dari orang lain. Bapak boleh menyuruh kami pergi, tapi bapak tak bisa memaksa kami untuk melupakan bapak. Dan tolong jangan paksa kami untuk melupakan bapak....'' kata salah seorang lelaki tersebut dengan suara serak.

''Jangan cengeng. Kalian bukan anak-anak kecil seperti belasan tahun lalu, kalian kini orang-orang kuat yang dibutuhkan negeri ini. Masa depan negeri ini di tangan kalian. Sudah, sana pergi.'' Meskipun berkata agak keras, namun Tuan Vampir tak bisa menyembunyikan keharuan yang ia rasakan.

Kedua pemuda itu membalikkan badan dan menuju perahu kecil yang tertambat di bawah tangga dermaga. Namun langkah mereka terhenti, dan secara bersamaan mereka membalikkan badan lagi, ''Izinkan kami berdua untuk menjenguk bapak nantinya....'' ujar mereka seolah tahu apa yang akan terjadi pada orang yang dihormati nya tersebut.

Tuan Vampir mengangguk penuh wibawa. Dan berkata, ''Saya akan menantikan kalian,'' ujarnya pelan hampir tak terdengar. Setelah itu mereka berdua menghilang dibalik tangga dermaga. Untuk kemudian lampu templok dalam sekoci tersebut benar-benar hilang bersama perahu di telan kegelapan malam.

''Kenapa anda membuat keputusan seberat itu?'' pertanyaan si gembel memecah lamunan Tuan Vampir yang masih menatap arah kepergian orang-orang kepercayaannya.
Sebentar ia menatap si gembel, sebentar kemudian kembali menatap arah yang tadi. ''Saya sudah semestinya melakukan itu.''

''Apa tujuan anda sebenarnya?''

''Saya tidak punya tujuan lain selain mempercepat sistem,'' ujarnya singkat. Ia membenarkan duduknya. ''Buronan harus ditangkap oleh aparat. Baik besok atau sekarang sama saja, juga bakal tertangkap. Jadi kalau bisa sekarang, kenapa harus tunggu esok, itu malah akan menyusahkan kedua belah pihak saja....'' sambung Tuan Vampir lagi dengan mantap.

Si gembel mengangguk-angguk lembut. ''Lalu apa rencana bapak selanjutnya?''

''Saya akan menikmati pagi menjelang, karena mungkin esok saya sudah berada dalam sel pengap dan ocehan penghuni sel lainnya,'' desahnya. ''Maukah anda menemani saya duduk disini hingga pagi tiba,'' pinta Tuan Vampir kepada si gembel.

''Kenapa tidak... Tak ada yang bisa menandingi keindahan matahari terbit dari dermaga ini, '' ujar si gembel mengiyakan.

Udara semakin dingin. Gemuruh ombak masih terus berkejaran memburu tepi dermaga. Sedang bulan separuh mulai menampakkan wujudnya menyerupai peri putih di tengah malam. Sementara, kedua insan itu masih hanyut dalam duduk panjang mereka, menghayati setiap detik demi detik angin yang menyentuh wajah mereka. ***

Jambi 2001