"Aku hanya
pembunuh
kematian"
_________
(Monas Jr)

 All about Imajination
  Sastra dalam rumah-rumah Nusantara.
|Home|About Me| Friends |Mail-me|

Monas Short Stories
(semacam napak tilas):

• Tahun 2000
- Benar-benar Gila
- Doa di Tengah Hujan
- Curanmor

Tahun 2001
- Antrian
- Cincin
- Durian

- Kubus
- Kucing Belang
- Lalat-lalat Hijau
- Mati Suri
- Negeri Apa
- Potret
- Robot
- Saling Bantu
- Sepotong Lengan
- Surat Putih
- Terbang
- Vampir

Tahun 2002
- Demo Para Monyet
- Impas
- Isteri
- Kita
- Kasihku Seorang Barbar
- Kematian Damai
- Lelaki Tak Pernah Tidur
- Stum Palalo


Tahun 2003
- Apa yang Kau Lihat
- Cermin-cermin Bicara
- Huek!

- Kristal-kristal Gula
- Para Pendusta
- Pengecut
- Sampan
- Tanpa Tanda Kutip
- Tahi Lalat
- Rindu Ikan...

Tahun 2004
- Cyberlovetika

Tahun 2005
- Termurah
- BBM

Jambi Province
- All about Jambi

Filsuf
- Beberapa nama

My Book


Robot

Cerpen : Monas Junior

      Derap sepatuku berciuman dengan lantai tehel terdengar serasi mengiringi musik pagi. Derap itu terpaksa kuhentikan sesaat menunggu pintu dari kaca terbuka secara otomatis setelah membaca tubuhku lewat kamera di atasnya. Barulah aku melanjutkan derap itu melewati kangkangan pintu tanpa perduli sedikitpun. Itu sudah menjadi rutinitasku setiap 7.30 pagi. Tiba di kantor untuk bergumul dengan setumpuk pekerjaan.
     Hampir semua rekan yang kulewati kusempatkan untuk menegur, ''Pagi...''. Dan ''Pagi...'' sambut mereka walau tak melihat wajahku dan masih asyik tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Meski begitu, aku sudah cukup puas dengan sambutan itu. Tapi ketika melewati Kidam, office boy yang membawa baki berisi sekian gelas kopi. Langkahku terpaksa kutahan. Ia tak membalas sapaanku!
     'Pagi, Mas Kidam...!'' Agak keras suaraku. Kedua mataku menuding punggung batok kepalanya. Sementara ia kini tengah meletakkan segelas kopi di meja Heni, resepsionis.
     ''Bzzz... Pagi,'' jawabnya singkat. Kembali berjalan ke resepsionis satu lagi, si Wati.
     Aku merasa terusik melihat tingkah Mas Kidam itu. Tak biasa-biasanya ia berlaku demikian. Ia yang kukenal adalah orang teramah di kantor itu. Bahkan acapkali sapaan 'pagi'-ku selalu keduluan oleh dia. Sesekali berbarengan. Mataku terus mengekori geraknya yang kaku hingga hilang ditelan lift menuju lantai atas.
     Setelah kedua belah pintu lift benar-benar rapat dan lampu berwarna hijau samping sebelah kanan lift menyala, aku mencari tanya lewat mata Wati yang kebetulan menatap ke arahku. Sayangnya tak ada rasa mengerti sedikitpun dari sorot mata indahnya itu, seolah ia tak mau tahu akan keadaan yang menimpa Kidam barusan. Kebiasaan-kebiasaan yang tak biasa dari Kidam, si office boy. Wati memutuskan tatap denganku untuk kemudian hanyut dalam pekerjaannya. Sedang Heni sedari tadi sudah acuh tak acuh dengan semua yang terjadi.
     Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti jejak Kidam menuju lift ke lantai atas. Kantor ini terdiri 5 lantai. Dari 1 sampai 4 dipenuhi sekitar 40 karyawan dengan seragam putih hitam yang kesemuanya berdasi. Ya wanita, ya pria, sama saja. Sisa lantai satu lagi, disitulah bercokol para pihak manajemen. Boss-boss kantor ini. Sementara aku sendiri menuju lantai 3 dengan memanggul sejuta tanya akan si Kidam.
     ***
     7.30 pagi, seperti biasa aku sudah sampai di ambang kantor. Targetku sudah sangat jelas, mencari Kidam! Aku harus mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari dia. Kenapa sikapnya begitu kaku kemarin itu.
     ''Pagi...!''
     'Bzzz... Pagi!'
     Tak dapat kutahan kernyit di dahi mendapat balasan dari Heni dan Wati. Aku menyurutkan langkah tepat di depan meja mereka. Sambil menyorot dalam wajah mereka satu persatu; ''Pagi!'' ulangku.
     ''Bzzz... Pagi!'' singkat mereka berbarengan.
     Bzzz? Mereka berdesis seperti Kidam! Mereka hampir menyerupai Kidam! Mereka... Mereka.... Ada apa dengan Mereka?! Belum bertindak lebih lanjut, aku dikejutkan teriakan beberapa orang di lift yang terbuka.
     ''Iswan!'' Yang mengeluarkan teriakan adalah Darmin lelaki botak dengan dahi mengkilat. Di samping kiri-kanannya berdiri Gito dan Pane. Keduanya bertubuh kurus. Wajah mereka menyiratkan aura kecemasan seperti juga aku.
     Mereka masih berdiri kaku di situ sampai aku berdiri persis di depan ketiganya. Kutatap mata dan bibir mereka, hanya diam yang mereka sampaikan. ''Ada apa?''
     ''Telah terjadi bencana....'' Gito yang berkulit agak gelap bersuara.
     ''Maksud kalian apa. Aku sama sekali belum bisa menangkap.''
     Lantas aku diseret setengah paksa oleh Iswan ke pojok ruangan disusul Gito dan Pane. Di pojok itulah mereka menjelaskan se-rinci-rincinya mengenai perubahan sikap ketiga orang yang aku temui, Heni juga Wati. Dan ternyata beberapa orang lagi di lantai atas, telah menjadi serupa seperti ketiga orang itu. Kantor ini telah dipenuhi robot-robot berbentuk manusia! Rambut, postur, tubuh, pakaian, panca indera, semuanya serupa benar dengan orang-orang normal. Cuma gerakan kaku dan mata tanpa kehidupan itu yang jelas membedakan keduanya.
     ''Lantas kita mesti bagaimana?'' Aku melempar tanya.
     ''Kita harus laporkan kepada pihak manajemen! Kita harus bertindak secepatnya sebelum robot-robot menguasai gedung ini!'' Darmin si jidat licin berkoar lagi.
     ''Setuju!!!'' seru kami hampir bersamaan. Dan dengan semangat kami berempat memasuki lift menuju lantai paling atas.
     ***
     Di kursi putar belakang meja, duduk bersender seorang lelaki bertubuh tambun sambil menghisap cerutu. Asap keluar dari bibir tebalnya, mengepul diantara kumis dan kacamatanya. Sesekali ia terbatuk pelan. Dari kerut di dahi, bisa ditebak bahwa ia sedang berpikir untuk mencari jawaban yang pantas setelah mendengar penuturan kami berempat.
     Sambil berdehem sekali, ia melepaskan senderannya. ''Ehm. Ee... Saudara-saudara yang saya hormati. Saya pikir saudara tak perlu mencemaskan robot-robot yang berseliweran di kantor ini. Karena mereka amat dibutuhkan manajemen. Dan mereka ada karena keinginan pihak manajemen. Jadi sekali lagi saya sarankan untuk tidak perlu dikhawatirkan.''
     Usai berkata, ia melanjukan menghisap cerutunya. ''Nah karena itu. Sebaiknya saudara-saudara segera keluar dan melanjutkan tugas yang menjadi tanggungjawab masing-masing.'' Ia berkata lebih pelan.
Mendapat sikap sepeti tidak acuh dari dia, hatiku tergelitik untuk berkata.      ''Apa kinerja mereka bisa sama dengan kami-kami yang manusia ini, Pak? Sementara gerakan mereka begitu kaku, dan mata mereka sama sekali tak punya sorot kehidupan.''
     ''Nah, justru karena itu pihak manajemen menginginkan mereka. Sebab robot-robot itu sama sekali tidak rewel seperti karyawan manusia. Mereka tak butuh gaji besar. Mereka tak butuh tunjangan ini... tunjangan itu... kesejahteraan ini... kesejahteraan itu... Biaya lembur, biaya kesehatan, biaya perjalanan dan lain-lain... dan lain-lain. Mereka juga tak begitu penting uang makan puasa, bahkan tak begitu memikirkan thr. Mereka karyawan paling efesien buat sebuah perusahaan. Karena itu manajemen amat menyayangi mereka dan amat membutuhkan mereka. Bahkan kalau perlu, semua karyawan adalah robot!'' Ia mengakhiri dengan hisapan cerutu sekali lagi, dan kembali menyandarkan tubuhnya.
     Aku tercekat mendengar penjelasan Pak Toha, sang pimpinan perusahaan itu. Lebih tercekat lagi begitu kulihat ketiga rekan disampingku tertunduk pucat. Wajah mereka mensalju dalam diam. Sama sekali tak habis pikir, ada apa mereka ini?
     ''Andaikata saudara-suadara tidak berkenan dengan kebijakan pihak manajemen, saya sarankan...''
     ''Pak! Maaf saya potong,'' aku mengapak putus kata-katanya. ''Saya sama sekali tidak berkenan dengan kebijakan yang Bapak keluarkan. Sumpah, saya tidak setuju! Terkutuklah perusahaan yang membuat kebijakan seperti yang bapak keluarkan ini. Kalau anda-anda berani membuat perusahaan, maka anda-anda juga harus berani mensejahterakan karyawan. Karena diantara karyawan dan perusahaan seperti setali tiga uang. Kalau perusahaan tidak memikirkan karyawan, bagaimana karyawan bisa memikirkan perusahaannya maju atau mundur. Bah! Pantaslah kalau robot-robot itu yang bisa bertahan di perusahaan yang bapak pimpin ini. Karena selama dua tahun kerja di sini, saya hanya bisa membeli dua kaos kaki saja. Kaos kaki! Perusahaan bagaimana ini.
     ''Sebenarnya sudah lama saya merasa muak! Benci mendapat perlakuan tidak senonoh oleh perusahaan ini. Bukannya kemakmuran yang saya dapatkan, melainkan kehancuran terus menerus dari bulan ke bulan. Dan kalau Bapak merasa berbesar diri dengan kebijakan seperti yang tadi dijelaskankan. Saya, dengan amat berbangga hati... mundur dan mengharamkan diri dari pesangon yang akan bapak berikan! Detik ini juga, saya berhenti!''
     Usai mengucap itu, aku menghentak kursi ke belakang. Dan tanpa menoleh sedikitpun kepada lelaki seperti babi itu, aku melangkah cepat menuju lift. Meninggalkan ketiga teman dan seekor babi di dalam ruangan penuh kepicikan itu.
     Bzzz.... Bzzz... Bzzz... suara-suara yang dikeluarkan para robot itu mengantar kepergianku hingga hilang ditelan taksi. Aku cuma ingin pulang, memasak ikan bandeng segar kesukaanku untuk kemudian memanjakan diri di ranjang ukuran sedang kamarku. ''Jalan Angsoduo, Bang!''
Tak lama suara menderu yang khas keluar dari knalpot taksi yang kunaiki. Udara dingin dari AC taksi itu sedikit mendinginkan kemarahan yang aku rasakan. Aku berusaha menikmati perjalanan terakhir dari kantor ke rumah hari ini. Karena esok, aku sudah harus mencari pekerjaan baru. Suasana baru. Fuh! Tak percaya besok jadi pengangguran.
     Astaga! Sepanjang perjalanan, aku melihat robot-robot memenuhi permukaan aspal. Mulai yang berseragam sekolah, berpakaian dinas sipil, sampai yang berpakaian dinas militer hilir mudik dengan langkah-langkah kaku dan mata tanpa kehidupan. Gawat! Kota ini telah dipenuhi robot!
     ''Bzzz... Turun di mana, Bang? Bzzz....'' Si sopir bersuara.
Tubuhku tersentak ke belakang. Dan agak gugup aku berkata; ''Di-di-di sini saja!'' Aku mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu, dan tanpa berniat meminta kembalian aku melarikan diri tanpa tahu tujuan. Yang jelas aku harus lari dari kenyataan ini. Lari dari kenyataan bahwa dunia telah dipenuhi robot.***

Muarabulian, November 2001