"Aku hanya
pembunuh
kematian"
_________
(Monas Jr)

 All about Imajination
  Sastra dalam rumah-rumah Nusantara.
|Home|About Me| Friends |Mail-me|

Monas Short Stories
(semacam napak tilas):

• Tahun 2000
- Benar-benar Gila
- Doa di Tengah Hujan
- Curanmor

Tahun 2001
- Antrian
- Cincin
- Durian

- Kubus
- Kucing Belang
- Lalat-lalat Hijau
- Mati Suri
- Negeri Apa
- Potret
- Robot
- Saling Bantu
- Sepotong Lengan
- Surat Putih
- Terbang
- Vampir

Tahun 2002
- Demo Para Monyet
- Impas
- Isteri
- Kita
- Kasihku Seorang Barbar
- Kematian Damai
- Lelaki Tak Pernah Tidur
- Stum Palalo


Tahun 2003
- Apa yang Kau Lihat
- Cermin-cermin Bicara
- Huek!

- Kristal-kristal Gula
- Para Pendusta
- Pengecut
- Sampan
- Tanpa Tanda Kutip
- Tahi Lalat
- Rindu Ikan...

Tahun 2004
- Cyberlovetika

Tahun 2005
- Termurah
- BBM

Jambi Province
- All about Jambi

Filsuf
- Beberapa nama

My Book


Lelaki tak Pernah Tidur

Cerpen: Monas Junior

      Aku sudah acapkali memergokinya pada tengah malam, duduk termenung di ambang pintu, menelan segala kegelapan serta kesunyian di angin dingin seorang diri. Sesekali asap rokok mengepul berkejaran antara bibir-hidungnya. Dan tak bosan-bosan tangan kekar itu mengibas-ngibas di seputaran telinga, sebab dengingan nyamuk begitu ingin mengusik keheningan lelaki itu. Kejap berikut kembali asap berkepulan ke arah teras luar yang hanya diterangi lampu lima watt.
       ''Belum tidur, Bang?'' sapaanku bersirabutan menyerbu urat kejutnya. Ia terlonjak. Mengurut dada sesaat, lalu menatap aku dengan merdu.
       ''Belum, Dinda. Kau tidurlah dulu, esok kau ujian...'' Kubalik tatapnya. Kugariskan senyum termanis agar ia tahu betapa aku menyayanginya.
       ''Abang benar besok aku ada ujian, tiga hari lagi habis. Tapi kenapa... Kenapa ujian yang Abang beri pada tubuh Abang tak kunjung habis-habisnya? Tak kasihankah Abang terhadap darah merah itu, urat-urat itu, otot-otot itu, semua yang berhuni di dalam tubuh Abang? Tak kasihankah?'' ujarku pelan. Ia menunduk. Tatapannya lekat di ujung jempol kakinya yang tertekuk.
       ''Lelaki tak pernah tidur, Dinda... Dan lelaki tak semestinya tidur.'' Begitu katanya, dan selalu begitu.
       Sampai-sampai aku hapal betul kelanjutannya. Lelaki itu ibarat menara pantai, ia harus berdiri tegak menyinari pantai dengan sinar mercusuarnya. Ia adalah penunjuk arah, pemberi informasi, pelindung, pengayom, penanggungjawab penuh terhadap pergerakan setapak demi setapak jejak di dunia ini. Dan menara itu, Dinda... Menara itu tak pernah tidur. Ia tak boleh tidur! Jika ia terlelap barang sejam dua saja, maka banyak karang menerkam kapal, banyak jiwa terancam, dan banyak anarkis yang bakal terjadi. Kompensasinya sudah jelas, amat jelas terpampang jika lelaki benar-benar paham akan makna keberadaannya di alam ini. Selanjutnya aku melakukan sikap sama pada setiap akhir monolognya, ialah mengalah. Beranjak ke dapur, menghidupkan sebatang obat nyamuk lalu kuletakkan selangkah di sampingnya. ''Terima kasih, sayang. Sekarang tidurlah...'' Aku pun bergegas ke bilik. Kurebahkan tubuh di ranjang berukuran satu tubuh sambil menggerayangi dek bilik bercat putih itu dengan bayang-bayang mukanya.
       Bang Pendi, pria berpostur tinggi tegap itu tak lain adalah Abangku. Saudara kandung, sekaligus hanya dia satu-satunya yang kumiliki sekarang. Setelah sebelas tahun lalu kedua orang tuaku seperti senang bermain-main dengan kematian. Pertama, ayahku sukses terkubur akibat jantungnya yang membusuk. Kemudian disusul ibu tepat disaat kami mengadakan acara nujuh hari ayah, kanker dada yang sebelumnya telah merenggut sebelah buah dadanya tiba-tiba telah mengunyah habis seluruh permukaan paru-parunya. Wanita malang itu tewas dengan ringisan panjang di wajah.
       Sementara waktu itu aku masih bocah. Menghapus inguspun masih kulakukan dengan punggung tangan. Dan kata-kata yang sempat kuhapal belum sebanyak jumlah atom di bumi ini. Jadilah kematian kedua orang kucintai itu hanya menjadi pemandangan tak berketentuan di jiwaku. Aku heran melihat Bang Pendi--ketika itu ia kelas empat es-de- meraung-raung di samping tubuh ibu. Dan berkali-kali ia menggoyang-goyangkan tubuh ibu sambil meneriakkan; ''Ibu! Jangan tinggalkan kami, Bu... Mohon, Ibu. Jangan tinggalkan kami...''
       Lalu tangisnya pecah. Tak tahu aku kenapa orang-orang di sekitar kami ikutan menangis. Dan aku juga tak paham kenapa seorang lelaki beruban lebat mendekati Bang Pendi. Ia membisikkan beberapa kata, kemudian terlihat kepala Bang Pendi terangguk-angguk. Orang itu pun terangguk-angguk, lalu pergi meninggalkan Bang Pendi. Namun baru saja orang itu akan melewati aku yang berdiri di ambang pintu, tubuhnya berbalik cepat. Bergegas ia kembali duduk di samping Bang Pendi.
       ''Semuanya 300 ribu...'' lapat-lapat terdengar suara lelaki ubanan di sela-sela pengajian.
       ''Iya... Hik. Saya setuju. Hik.'' Bang Pendi menimpali.
       ''300 ribu...'' lelaki itu mengulangi. Kali ini tiga jarinya menegak di wajah Bang Pendi. ''Berapapun, saya setuju. Hik.'' Bang Pendi bersusah payah berujar sementara seseguk tangisnya masih setia bercokol di dada.
       ''Itu sudah termasuk kain kafan, penggali kubur, nisan...''
       ''Dengar, Pak!'' hardik Bang Pendi. Ia berdiri. Matanya yang merah menghantam tepat ke tubuh lelaki beruban dan bertubuh kurus di depannya. Suasana seketika hening. Orang-orang yang semula mengaji sekarang berebut pandang ke dua orang samping mayat ibu.
       ''Meski kedua orangtuaku sudah mati, bukan berarti aku tak mampu membiayai pemakaman mereka. Karena tabunganku di bank lebih dari cukup membiayai sepuluh kali pemakaman lagi! Termasuk pemakaman Bapak!'' Bang Pendi hilang kontrol. Amarahnya meledak-ledak memenuhi ruangan. Dan lelaki beruban itu... Tak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci rapat dalam kegugupan. Belum lagi berpasang-pasang mata orang di sekeliling seolah-olah mengumpat habis perbuatannya barusan. Beberapa saat kemudian ia berlalu. Masih sempat kepalaku dielus sekilas oleh ia, Pak Uban aku menyebutnya. Ayah Rani teman sepermainanku di saat siang menjelang sore.
       Dan tadi pun aku masih sempat bermain-main petak umpet bersama Rani di halaman es-de. Sampai akhirnya sepulang dari bermain sore ini, aku harus menghadapi kenyataan bahwa Ayah-Ibu telah meninggalkan kami berdua untuk selama-lamanya. ''Mirna! Mirna! Sayangku...'' Bang Pendi histeris memburu tubuhku. Jadilah aku bulan-bulanan ciumannya, belaiannya dan kuyup oleh air matanya. Memang, sedari tadi ia sama sekali tak memperhatikan kehadiranku di ambang pintu. Sekarang, habislah aku didekapnya erat-erat. Seakan mengatakan; aku tak ingin kehilangan engkau. Kaulah satu-satunya milikku sekarang. Oh, Abang. Kulingkarkan tangan kecilku di punggungnya. Kubiarkan air mata bening ini bercampur dengan air matanya. Dan kubiarkan saja beberapa tangan mengurut-urut punggung kami.
       Kemudian maghrib pun tiba, maghrib kedua, ketiga, keempat, sampai akhirnya ber maghrib-maghrib berikutnya kami habiskan berdua saja. Tanpa Ayah, tanpa Ibu. Tanpa canda, tanpa ceria seperti dahulu semasa kami masih lengkap seperti halnya sistem keluarga normal. Dan betapa kesunyian itu lebih menyiksa dari segala penderitaan. Kehampaan menyayat-nyayat nadiku, Bang Pendi juga.
       Kami berdua seperti mayat hidup. Berjalan tapi tak bertentu ujung. Tubuh kurus ceking. Maklum, persediaan beras di rumah tinggal beberapa maghrib lagi. Setelah itu...
       Ah, Tuhan itu masih ada. Selalu ada di saat-saat penentuan. Buktinya ketika tak sebiji beras pun yang bisa ditanak, tiba-tiba Bibi Ani, Adik ibu datang tergopoh-gopoh dari luar teras. Seketika ia menerobos masuk dan memeluk kami berdua yang tengah duduk termenung di ruang tengah, kelaparan.
       Ia peluk Bang Pendi. Ia cium aku. Kemudian ia bisikkan kata-kata penghibur. Lalu Paman masuk. Ia hanya memperhatikan kami berdua dengan tatapan tak sedap. Ah, aku tahu betul tatapan itu. Seperti tatapan ibu tatkala memergokiku memetik setangkai mawar kesayangannya. Namun kubuang prasangka buruk itu karena ketulusan atas keprihatinan yang ditawarkan Bibi lebih kuat dari segalanya. Minimal untuk saat ini.
       Selanjutnya bisa ditebak, kami berdua diboyong ke kota dimana Bibi dan Paman tinggal dengan ketiga sepupu sebaya kami. Bibi orangnya baik meski agak judes. Di antara deru mobil yang melaju Bibi masih sempat menghibur aku dengan pertanyaan; ''Mirna, sayang. Kalau sampai nanti di rumah Bibi, Mirna mau apa? Pokoknya minta mainan apapun pasti Bibi belikan. Eh, jangan panggil Bibi, ya. Panggil Tante saja. Dan Oom pada Paman Yono.''
       Kami berdua bertatapan sejenak, lalu mengangguk. ''Baik tante...'' ujar kami berbarengan. ''Bagus... Tante senang sama anak manis.''
       Dicubitnya pipiku. Kemudian ia tertawa renyah. ''Jadi Mirna mau minta apa?'' tante mengulang tanya. Matanya mengerjap-ngerjap lucu. Kali ini kupandang Bang Pendi. Bang Pendi diam, namun segera aku mengerti begitu kulirik tangan Bang Pendi memukul-mukul perutnya tiga kali. ''Hmmm...'' Tante tersenyum tulus.
       Tampak mata Oom melirik dari kaca spion. Mobil kijang yang mengendong kami bergoyang-goyang sesaat setelah menginjak 'polisi tidur' selepas tikungan. ''Aku mau minta sepiring nasi dengan lauk rendang yang masih panas...'' ucapku akhirnya, usai tarian kijang mereda. Tante tersentak sesaat. Ditatapnya mataku lekat. Dan, ah, tanteku satu ini tak ada yang bisa menandingi kebaikannya. Memang sudah pantas ia menjadi adik kandung Ibu. Sifatnya persis layaknya ibu.
       ''Pa, Pa. Nanti kalau ada rumah makan kita stop, Pa. Kasihan anak-anak ini kelaparan...'' kata tante keras diantara klakson mobil saling bersahutan. Dan mimik wajahnya... begitu menyedihkan! Oom Yono melirik sekali lagi dari balik kaca spion. Sekilas tampak kepalanya terangguk beberapa kali. Dan kami berdua pun tersenyum senang.
       Sudah terbayang betapa enaknya makan di warung dengan lauk pauk berlimpah. ''Terima kasih, tante...'' Lagi-lagi kami berujar serentak. Tante mengangguk-angguk. Kukecup sekali pipinya. Dan ia langsung membenamkan tubuhku di pelukannya. Beberapa saat kulepas pelukan Tante, kulontarkan pandangan ke luar kaca jendela; pohon-pohon pinggir jalan seperti berkejar-kejaran tak berkehentian, tamparan angin begitu berwujud setelah bercampur ribuan kilo debu. Dan aku tersenyum ketika melihat anak-anak sebayaku tengah berlarian mengejar layang-layang yang tengah bercumbu dengan angin di atas pepohonan.
       ***
       Sudahlah, begitu saja. Sejak saat itu Bang Pendi tak pernah sekejap pun mematikan kelopak matanya di malam hari. Dan sejak saat itu pertengkaran-pertengkaran kecil selalu mewarnai kami, hanya ketika berdua saja. Sebab kelihaian kami menyembunyikan masalah membawa kami jadi anak-anak manis di mata Oom, Tante Yono beserta tiga orang anak perempuannya.
       Hingga suatu ketika Bang Pendi usai menyelesaikan sekolah menengah, ia diterima bekerja pada sebuah dealer motor kota ini, sementara aku baru masuk sma. Tak lama kemudian gaji Bang Pendi telah berhasil mengeluarkan aku dari rumah Tante, tentu dengan sedikit senda-sendu.
       Meski telah menghuni sebuah kontrakan, kebiasaan Bang Pendi tak juga berubah. Bahkan menjadi-jadi. Semula malam saja ia tak tidur, lambat-laun siangpun telah ia samakan semua. Tak terbetik sedikitpun niat ia untuk meninabobokkan matanya di kasur. Ah, lelaki itu, tak pernah tidur. Siang ia masih meneruskan pekerjaan montirnya di bengkel tersebut, malam ia habiskan dengan perenungan demi perenungan di depan mesin ketik, teras, meja tamu, dan entah apa yang ia buat. Namun tak terhitung juga ia berdiri di ambang kamarku setelah sebelah tangannya menaikkan gorden, menatapku sesaat, kemudian berlalu lagi menuju perenungan yang tak kunjung usai.
       Sampai-sampai aku merasa ia seperti seorang satpam. Menjagaku tidur kala malam. ''Lelaki itu tak pernah tidur, dan tak boleh tidur...'' Selalu itu yang ia katakan ketika aku berontak dengan ia.
       Dan semula aku sama sekali tak menyetujui tingkah polah yang ia berikan pada tubuhnya itu, bahkan seratus persen menolak. Tapi sebuah peristiwa menyadarkanku bahwa lelaki, memang seharusnya seperti dia.
       Waktu itu malam masih buta. Aku terlelap di tengah ranjang merayapi mimpi demi mimpi. Sedang ia, Bang Pendi, aku yakin masih asyik melakukan pertapaan seperti biasanya. Namun malam belum cukup membutakan dua orang bermaksud jahat yang mengendap-endap mencongkel pintu belakang kontrakan kami.
       Ah, aku tak sempat menyadarkan penuh diriku dari keterkejutan ketika mulutku telah dibekap orang bertopeng sebo, tangannya menggenggam parang dan ditempelkan ke leherku. Keringatku mengalir, padahal malam begitu dingin.
       ''Jangan berisik!'' setengah berbisik lelaki bertopeng itu di telingaku. Seorang lagi perlahan-lahan mengunci pintu kamar. Lalu mulai sibuk membuka lemari pakaian yang entah kenapa lupa aku kunci. Ia obrak-abrik seluruh isinya, kemudian ditariknya kotak hitam peninggalan ibuku dari barak lemari paling bawah, dibalik tumpukan baju-baju. Sementara yang seorang berbuat demikian, seorang di atas tubuhku mulai memancarkan panas. Ia berkeringat, tak kalah deras dari keringatku. Bedanya, aku keringat dingin, ia keringat nafsu! Dan benar saja, tangan-tangan biadab lelaki itu mulai menyapu tubuhku dari betis hingga... Brak!!
       ***
       Untunglah. Untunglah lelaki itu tak pernah tidur. Dengan kesadaran penuh ia dobrak pintu kamar disaat aku benar-benar diambang kehancuran, dan dengan kesadaran penuh ia hancurkan orang-orang bertopeng itu menggunakan kayu pegangan kursi tamu. Maka, selamatlah aku. Mampuslah mereka! Kuburlah kematian kehormatanku.
       Sejak itu aku mulai berubah memandang pemikirannya mengenai ketidaktiduran seorang lelaki. Mulai hari itu pula, kubiarkan ia melarutkan diri di malam buta, di siang bolong, di maghrib menjelang, di waktu-waktu tak tentu berikut, berikut, dan berikutnya. Sampai seluruh tubuhnya hanya tinggal selaput pembalut kulit. Sesekali masih sempat aku tergilitik untuk kembali mengingatkan ia akan kesehatan. Tapi tetap saja tak berarti apa-apa buat dia. Tak sedetikpun ia terlelap.
       ***
       Tahun-tahun berkejaran di gorong-gorong bumi. Tak terasa kini aku telah sarjana. S1 Peternakan, SPt embel-embel belakang namaku. Dan siang wisuda enam bulan lalu adalah hari-hari tercerah Bang Pendi.
       Dengan berstelan jas abu-abu lengkap, rambut hitam lurus berminyak, kemeja putih di dalam, sepatu hitam kulit mengkilat, wajah bersih setelah cukuran semalam, membuat ia tampil memikat banyak wanita.
       Baru kali ini aku kehilangan mata kurang tidurnya yang acapkali sayu seperti lampu lima watt, karena kini mata itu bersinar lebih terang dan amat menyilaukan.
       Berdua kami habiskan film di kamera penjaja foto amatiran yang selalu hadir pada acara semacam ini. Dan kami puas setelah melunasinya keesokan hari.
       Lalu, malamnya, lelaki itu kembali tak bisa tidur. Wajah pucat dan mata kurang tidur itu menempel erat lagi. Aku tak bisa apa-apa, selain menatap pajangan fotoku berpakaian toga ukuran 20 kali 20 senti yang tertempel di ruang tamu, sambil sesekali melirik ia yang tengah membaca sebuah tabloid. Saat itu baru pukul sepuluh tepat. Tivi-tivi tetangga lapat-lapat suaranya masih menyinggahi kupingku. Dan gitaran sekelompok pemuda di muka gang juga terdengar meraba-raba pukul sepuluh ini.
       ''Apa rencanamu selanjutnya, Mir...''
       ''Hah?'' tak jelas kutangkap suaranya.
       ''Apa rencanamu?'' Ia mengulang. Diturunkannya tabloid itu dari wajahnya, lalu ia mengirisku dengan kata-kata;''Kau kini kan sudah sarjana. Titel dan pemikiranmu semestinya sejalan sekarang. Jadi tak mungkin kau hanya berdiam saja di rumah, mengurus dapur dan pot-pot kembang di halaman. Kau butuh pekerjaan, kau butuh wadah untuk menerapkan disiplin ilmumu...'' Bang Pendi meletakkan tabloid di atas meja. Ia tatap aku, serius. Aku gugup.
       Tersebab tak ada sedikitpun rencana tersusun di otakku sampai detik ini. Selain niat menjadikan ia tertidur. Cuma itu. ''Mungkin saat ini belum...'' akhirnya kupaksa berkelit.
       Namun ia lebih pintar, ia tahu aku tak punya rencana. Dengan sebelah tangan kembali ia menarik tabloid tadi ke depan hidung hingga seluruh wajahnya tertutupi. ''Seharusnya segera kau pikirkan. Manusia tak laik hidup jika tak punya rencana,'' lanjutnya datar. Sementara sebelah tangannya yang lain menyempalkan sebatang rokok ke mulut, asap kembali memangsa seluruh ruangan. Sedang aku, tertidur kaku akibat kata-katanya.
       ***
       Sepuluh bulan menjalani situasi yang itu-itu juga; ketidak tiduran Bang Pendi, pengangguranku, kesepian di rumah, dialog-dialog yang hampir menyerupai monolog pada nasib, dan ketakbecusan cuaca, akhirnya sebuah terobosan merubah segalanya. Aku dilamar Pinton-- seorang perjaka tanpa titel, tak ada pekerjaan tetap, masa depan miring, anak buruh angkut seberang rumah, postur tubuh kurus ceking, rambut semrawut--, Ia adalah kriteria lelaki yang jauh-jauh dari pernikahan.
       Hanya cinta dan kerja keras ia membuat aku yakin, bahwa masa depannya masih bisa diluruskan. Tentu saja berpengaruh kepadaku. Dan Bang Pendi tahu itu.
       Ia juga tahu aku butuh sebuah terobosan untuk memvonis situasi monoton selama ini. Maka resmilah ia terima Pinton sebagai suamiku dengan resepsi pernikahan dua hari selang lamaran. Tanpa masa pacaran.
       Alhasil, sembilan bulan kemudian aku menerbitkan anak edisi pertama. Bang Pendi memberi ia nama Elang dan suamiku menambahkan Arjuna. Jadilah Elang Arjuna satu-satunya mahluk hidup yang benar-benar hidup di rumah kami.
       Aku cuma tersenyum dan mengangguk ketika kedua lelaki itu berunding di depanku yang berbaring sambil memeluk Elang. Kedua lelaki itu benar-benar bercahaya!
       Kejap kemudian berpindahlah Elang ke tangan Bang Pendi, lalu ke pelukan Pinton. Lantas mereka berebut menciumi Elang. Aku tersenyum geli. Anginpun begitu, malah ia belai-belai rambutku halus dan dingin.
       ***
       Seterusnya keadaan kembali seperti semula. Statis. Ia, lelaki itu, masih saja sibuk dengan keterjagaannya sepanjang malam tak berbatas hari maupun tahun.
       Elang telah dua tahun, telah pintar bicara kini. Bahkan tangisnya mulai berubah tawa-tawa dan rajukan-rajukan yang menggemaskan.
       Suamiku, ah malangnya hidupku. Dalam beberapa bulan berikut ia telah menyusul ayah dan ibuku menuju masa keabadian. Lorong panjang bernama kematian. Lagi-lagi penyakit kronis itu--jantung, membuat ia hembuskan napas terakhir di pucuk malam, dalam pangkuanku dan tangisan Elang serta tatapan hancur Bang Pendi.
       Butuh waktu lama menyuburkan tanah yang telah dilanda kekeringan sepanjang kemarau. Demikianlah aku kini. Seorang diri dengan bocah yang belum tahu apa-apa tentang dunia dan seisinya, dan akan jadi apa dia tanpa ayah sebagai tokoh panutan. Sementara Bang Pendi, kesendiriannya jauh lebih buruk dari aku, tak ingin kuajak serta ia ke kesedihan ini. Sudah cukup berat hidupnya.
       Oo, maut-maut. Kembali kau tunjukkan kemegahanmu dengan segala kekuatanmu. Kau ibarat senjata tajam-Nya yang sengaja ditebaskan kepada manusia, entah buat apa. Entah maksud apa di balik itu. Yang jelas kini, di antara dek rumah dan lantai, aku melayang-layang bebas.
       Tak ada masa sedikitpun menahan tubuhku di tanah. Bahkan angin, seakan saudara kandung buatku sekarang. Dalam keadaan itu aku melihat jelas seorang lelaki berkopiah hitam tengah memeluk tubuh berkapan yang terbaring tegang di ranjang.
       Beberapa pelayat tengah melantunkan syair-syair indah dari antologi Tuhan, dan isak tangis, ah, begitu berbaur dan kalah oleh lengkingan seorang bocah. Ia, adalah Elang. Anakku. Dan lelaki itu, tak lain Bang Pendi-lelaki tak pernah tidur-itu.
       Lalu siapakah tubuh berkapan itu? Hanya getar-getar halus yang dapat kurasa, damai juga. Terlebih saat aku tahu betapa Elang bakal diurus oleh lelaki tak pernah tidur itu. Tentulah maju nanti ia, tentulah membawa perubahan kemaslahatan ia, tentulah jadi pilar nanti ia, itupun jika maut, lagi-lagi tak ambil bagian dalam perundingan waktu.***

Jambi November 2002