"Aku hanya
pembunuh
kematian"
_________
(Monas Jr)

 All about Imajination
  Sastra dalam rumah-rumah Nusantara.
|Home|About Me| Friends |Mail-me|

Monas Short Stories
(semacam napak tilas):

• Tahun 2000
- Benar-benar Gila
- Doa di Tengah Hujan
- Curanmor

Tahun 2001
- Antrian
- Cincin
- Durian

- Kubus
- Kucing Belang
- Lalat-lalat Hijau
- Mati Suri
- Negeri Apa
- Potret
- Robot
- Saling Bantu
- Sepotong Lengan
- Surat Putih
- Terbang
- Vampir

Tahun 2002
- Demo Para Monyet
- Impas
- Isteri
- Kita
- Kasihku Seorang Barbar
- Kematian Damai
- Lelaki Tak Pernah Tidur
- Stum Palalo


Tahun 2003
- Apa yang Kau Lihat
- Cermin-cermin Bicara
- Huek!

- Kristal-kristal Gula
- Para Pendusta
- Pengecut
- Sampan
- Tanpa Tanda Kutip
- Tahi Lalat
- Rindu Ikan...

Tahun 2004
- Cyberlovetika

Tahun 2005
- Termurah
- BBM

Jambi Province
- All about Jambi

Filsuf
- Beberapa nama

My Book


Terbang
Cerpen : Monas Junior

      Sedari kecil aku sudah punya angan-angan ingin terbang seperti seekor burung kesana-kemari tanpa massa. Mengitari pohon beringin, pohon palem, pohon kelapa bahkan kalau bisa membelah awan-gemawan yang selalu berkumpul nakal.
      Ketika itu, dengan rengekan seorang bocah aku meminta segulung kertas karton kepada ibu. Ibu hanya tersenyum bijak dan sambil membelai rambutku ia berkata ; ''Buat apa karton untukmu, anakku...''
      ''Nardi mau buat sayap, bu. Sayap untuk terbang.''
      Entah senyum entah mengejek, ibu merundukkan tubuhnya hingga hidungnya sejajar benar dengan hidungku. ''Ibu buatkan layang-layang saja, ya buat Nardi.'' Itu saja. Lalu ibu berjalan ke sebuah toko buku. Mengeluarkan selembar uang lima ratus dan segulung karton hitam berpindah ke tangannya.
      Setelah bertahun-tahun waktu menggelinding. Setelah duakali ganti celana - celana pendek ke celana panjang- , sampai-sampai pohon beringin di halaman belakang rumahku telah berjenggot, aku masih tetap punya keinginan itu. Terbang. Terbang mengangkasa. Rasanya tak ada yang bisa menyurutkan niatku, bahkan ibu sekalipun!
      ''Sudahlah, Nak. Buat apa kau susah-susah bermimpi bisa terbang. Mau jadi pilot?! Ah, lupakanlah. Bisa hidup saja sudah syukur buat kamu, buat ibu. Buat kita. Sebaiknya kau bantu ibu menebang pohon beringin di belakang dapur. Kita tanam singkong banyak-banyak, kalau berhasil panen kan bisa tambah-tambah uang belanja kita.'' Wanita tua itu membelai rambutku. Meski aku sudah berusia sekarang, ibu selalu tak lupa membelai rambut ikalku.
      ''Terbang yang kumaksudkan bukan dengan mengendarai burung besi, Ibu.       Tapi terbang dalam arti sungguh-sungguh terbang. Menggunakan tangan-tanganku sebagai sayap, menggunakan kaki-kakiku sebagai ekor!'' teriakku dalam hati. Walau ada protes menggunung di dada ini, aku tak ingin berteriak di depan ibu. Wanita itu sudah cukup malang, adalah kejam jika membuat sedih hatinya.
      Pohon beringin meringis ngeri menatap kedatanganku. Bukan aku yang ditakutinya, tapi sebilah kapak besar tergenggam di tanganku kini yang ia takuti. Naluri pohonnya membisikkan ; ''Ajalku telah tiba...''
      Lalu.... Tas! Tas! Tas!
      Berpuluh-puluh kali mata kapak menghujam ke tubuh Beringin. Ia meringis alang kepalang. Suatu kesakitan yang tak bisa dilukiskan. Kalau bisa menjerit, mungkin ia telah melengking dahsyat. Tapi ia hanya bisa mengekspresikan kesakitannya dengan derakan-derakan tak berhenti. Entah sudah berapa ratus helai rambut hijaunya berguguran. Sementara aku masih terus menghujam kapak seperti kesetanan.
      Dipenghujung nafasnya, Beringin itu masih bisa menjaga tubuhnya agar tidak menghantam gubuk reot tempat majikannya selama ini tinggal. Aku dan ibuku. Seperti ada yang menggerakkan, tubuh beringin perlahan dengan lembut roboh ke arah pagar kayu. Hingga musnahlah kayu-kayu bersusun itu!
Sekian musim telah berlalu, singkong-singkong telah dipanen. Sekian kilogram dikali sekian rupiah, hasilnya sekian lima ribu-an tergenggam di tangan ibu sekarang. Aku berdiri memandangi kertas berharga itu seperti bayi tengah disuapi ketika pertama kali. Ada kecemasan, ketakutan, kengerian, dan sedikit keinginan. Bahkan sesekali air liur mengalir dari sela-sela bibirku.       Seakan ingin teriak, mataku memperhatikan kipasan demi kipasan kertas di tangan ibu, ''Ibu cepat berikan barang selembar saja, aku sudah tak tahan beli es di warung sebelah!'' buru hatiku.
      ''Meski kau hanya menebang pohon beringin, tapi kau masih tetap dapat bagian, anakku.'' Ibu berujar. Lalu selembar lima ribu-an bertengger di tanganku. Aku menggengamnya dengan erat. Erat sangat. Seakan tak mau melepaskan ia.
      Sepeninggal ibu ke dapur, aku berhembus menembus pintu depan. Lalu kejap kemudian aku telah berada di depan toko Mbok Tinah, wanita kurus dengan diselimuti kerutan di sekujur kulitnya.
      Belum lagi aku mengajukan permintaan, tiga orang teman yang aku selalu tak bisa mengingat-ingat nama mereka, menegurku dengan santun. Lalu tanpa ba-bi-bu ia merampas selembar hasratku tapi meninggalkan sebuah bungkusan plastik hitam sebagai gantinya.
      ''Itu bisa membuat kau terbang. Ringan melebihi asap-asap di corong perapian,'' kata salah satu dari mereka sebelum meninggalkan aku sendiri.
Baru dua langkah, seorang tadi berkata kembali dan mengajarkan aku sesuatu. Begitulah, rasanya kursus kilat mereka bisa kupahami. Sambil tersenyum aku berlari menuju rumah. Tak terpikir sedikitpun selembar lima ribu-an pemberian ibuku telah lenyap. Yang terpikir hanya sebuah impian besarku selama ini akan terwujud. Tak soal bagaimana pun caranya. Terpenting, aku akan terbang. Terbang tinggi!
      Ah! Alangkah indahnya hidup ini. Ketika sebuah keinginan tercapai, ketika mimpi-mimpi jadi nyata, ketika ketidakmungkinan terpelanting dilindas sebuah kemungkinan yang pasti. Dan, ah! Aku bisa terbang.
      Tubuhku begitu ringan serasa menari-nari dipermainkan angin malam. Melayang-layang bebas, lepas tanpa pertalian kesadaran. Aku tak ubahnya merpati putih dengan sayap-sayap kokohnya mengepak-ngepak kesunyian dan menebar segala senyum. Kadang cerah, kadang manyun sesekali kecut!
Telingaku menangkap segala bunyi dan mengulangnya berkali-kali. Desauan angin pun menjadi ratusan lebih keras kuterima dari biasanya. Aku mencoba mencari jawab dari sela-sela senyum yang tak bisa lagi kukontrol. Kenapa aku begitu penakut sekarang, padahal terbangku belum terlalu tinggi. Cuma melambung-lambung di atas tunggul pohon beringin yang biasa aku duduki setiap sore tiba.
      Tanpa kusadari, setetes demi setetes air mata roh tunggul beringin yang telah tiada itu mengalir. Ia menangisi ketololanku yang nekat terbang malam-malam buta tak berorang ini. Ia merutuki perbuatan laknat tubuhku yang terus melayang-layang. Ia bahkan kalau bisa bercarut, pasti akan mencarut-marutkan apa yang tengah aku alami sekarang. Benar-benar tak bisa dimengerti!
      Apalagi yang bisa membahagiakan seseorang selain terpenuhinya sebuah kebutuhan. Malu, gengsi, dan segala macam embel-embel berbau ego harus dibuang ke tempat sampah demi pemenuhan kebutuhan. Demi kebahagiaan. Dan aku rasa apa yang tengah aku lakukan tidaklah salah-salah amat.
Aku cuma ingin menikmati tanganku yang tiba-tiba muncul sayap, kakiku yang tanpa musabab jelas telah berujud ekor. Mulutku bukanlah mulut lagi, melainkan paruh seekor rajawali kehausan. Kulitku telah berbulu semua, hingga angin tak dapat menembus rasa dinginku, mungkin juga rasaku telah mati. Mataku memberat. Jantungku berdetak tak terkendali. Pikiranku ikut memantul-mantulkan bintang-bintang kecil ketika kucoba untuk mengatupkannya. Tanganku masih berusaha mengepak tapi terlanjur bergetar tak karuan. Dan... mau tak mau aku harus menghentikan terbangku dan terhempas keras ke atas tanah yang dingin dan agak basah!
      ''Selamat datang di duniaku, Saudaraku.'' Suara agak serak dan berat itu memaksa aku untuk membuka mata. Kutolehkan kepala ke balakang.
Alangkah terkejutnya aku, ketika kulihat sebuah pohon beringin tegak dengan sekian kakinya yang berujud akar. Matanya merah menyala, hidungnya hanya berupa dua lubang di atas sebuah lobang lagi yang lebih besar. Kurasa itu mulut baginya. Dari sanalah keluar kata-kata berikut yang mencekat kerongkonganku.
      ''Kau telah disini. Seperti aku yang terpaksa ada disini akibat kapak-kapakmu, duhai Saudaraku.'' Matanya menyala lebih terang. Aku tergugu dalam diam. Antara ketakutan dan kebingungan.
      ''Kau lihat disana. Mereka berkumpul buat mengantarmu, mempersembahkan melati-melati kecil di atas batu nisanmu. Di sana, disana juga telah terpatri nama mu. Sebagai manusia gila pertama yang masuk neraka,'' ucapnya sembari menggerakkan ranting kecil di samping tubuhnya ke arah sekumpulan orang berbaju hitam.
      Benar kata ia. Disana, sekitar tujuh langkah ke depan. Aku melihat orang-orang yang kukenal, namun selalu tak bisa kuingat namanya tengah tertunduk sambil menyeka sesekali mata mereka. Aku lihat juga wanita pertama kucintai, dia ibuku. Wanita renta dengan mata sembab tengah melotot ke arah tanah merah itu.
      Maksudku mau menghampiri, tapi entah bagaimana tiba-tiba tubuhku begitu ringan dibawa alir angin ke arah sekumpulan orang-orang disana. Tiba-tiba aku seperti layang-layang. Terbang bebas namun dikendalikan seutas benang. Aku melayang-layang di atas mereka. Di atas gundukan tanah hitam bernisan putih.
      Kebahagiaanku karena bisa terbang sungguh-sungguh, seketika hilang diterpa keterkejutan. Lagi-lagi si pohon beringin jadi-jadian itu benar. Di nisan itu tertera nama yang selalu kusandang selama ini. Nardi bin Topan. Kemudian sederet angka kematian, kalau tak salah, tertera di bawah nama yang jelas-jelas namaku. Aku semakin tertampar dalam kata-kata bias ibu.
      ''Dia telah mati. Anak ku satu-satunya telah mati. Dia telah mati dirajam ketidaktahuannya akan tembakau itu. Tembakau yang entah dia dapat darimana. Tembakau yang akan selalu merenggut kehidupan anak-anak kita dikemudian hari. Dan akan terus berlanjut kalau tidak segera dimakamkan.'' Ibu terus mengoceh. Ocehannya semakin tak karuan, antara sesak, pilu, juga rindu. Aku menangis meski tak kurasa air mengaliri pipiku.
      Kemudian orang-orang berlalu pergi dengan tertunduk. Ibu juga. Semua telah pergi meninggalkan tanah basah itu. Meninggalkan aku sendiri yang terus melayang-layang seperti asap di cerobong perapian. Meski demikian, aku telah melengkapi keinginan untuk terbang. Terbang tak kembali ke jasadku. Terbang selama-lamanya tanpa bantuan tembakau laknat itu lagi!
Pohon beringin kini menjadi bayang-bayang bagiku. Kemana dan dimanapun aku melayang, selalu ia mengikuti dengan setia. Tak ada kata-kata diantara kami. Hanya kebisuan menjembatani hati kami. Kebisuan yang tak bisa diterjemahkan dalam bahasa isyarat.***

Jambi, 17 Sept 2001