"Aku hanya
pembunuh
kematian"
_________
(Monas Jr)

 All about Imajination
  Sastra dalam rumah-rumah Nusantara.
|Home|About Me| Friends |Mail-me|

Monas Short Stories
(semacam napak tilas):

• Tahun 2000
- Benar-benar Gila
- Doa di Tengah Hujan
- Curanmor

Tahun 2001
- Antrian
- Cincin
- Durian

- Kubus
- Kucing Belang
- Lalat-lalat Hijau
- Mati Suri
- Negeri Apa
- Potret
- Robot
- Saling Bantu
- Sepotong Lengan
- Surat Putih
- Terbang
- Vampir

Tahun 2002
- Demo Para Monyet
- Impas
- Isteri
- Kita
- Kasihku Seorang Barbar
- Kematian Damai
- Lelaki Tak Pernah Tidur
- Stum Palalo


Tahun 2003
- Apa yang Kau Lihat
- Cermin-cermin Bicara
- Huek!

- Kristal-kristal Gula
- Para Pendusta
- Pengecut
- Sampan
- Tanpa Tanda Kutip
- Tahi Lalat
- Rindu Ikan...

Tahun 2004
- Cyberlovetika

Tahun 2005
- Termurah
- BBM

Jambi Province
- All about Jambi

Filsuf
- Beberapa nama

My Book


Kasihku Seorang Barbar

Cerpen: Monas Junior

      Dia telah diturunkan dari kepitan awan putih suatu pagi. Mendarat tepat di atas rerumputan hijau sebuah lembah. Ia bernyanyi dalam nada-nada kesunyian. Dihirupnya udara sepuas mungkin, dikecupnya anggrek wulan yang melekat pada tubuh sebuah pohon. Kemudian dengan berjingkrak lincah, ia hamburkan peluk ke tubuh pohon itu. Seterusnya dansa-dansa indah keluar begitu saja melalui tubuh semampainya. Tatkala awan bersirabut pergi meninggalkannya, Ia telah lelap di atas rerumputan sejuk dalam dansa-dansa mimpi, mimpi pertama seorang bidadari.
       Makin asyik saja Ia bermimpi, apalagi embun menyelimuti tubuh bergaun putihnya dengan dingin syahdu. Pipit-pipit membentuk lingkaran besar di atas ketinggian tiga meter dari tanah, mereka tertawa dan saling berbisik genit. Aroma pagi yang hambar, serunai angin, juga intipan mentari dari balik dedaunan, membuat ia makin lelap.
       Pagi mengitari hari begitu cepat. Mentaripun kerepotan mengejar pagi yang membawa serta rekan-rekannya; jam, menit dan detik itu sampai di beranda siang. Ketika itu bidadari yang kusebut saja Puteri terjaga, dan aku di sampingnya.
       Kutawar sebuah senyum termanis, tapi ia malah terkejut. Tubuhnya berdiri cepat. Matanya membelalak, gaun putihnya bergelombang sesaat, lalu wajahnya pucat. ''Siapakah Tuan ini?'' satu tanya melompat juga dari bibir mungil berwarna merah jambu itu.
       ''Tak siapa-siapa. Cuma manusia.''
       Ia mengorek habis keadaanku. Wajah ovalku, rambut panjangku, tubuh atletis dengan kulit sawoku, topi pemburu, senapan di tangan kanan, baju kaos coklat tertutup rompi abu-abu, celana panjang berkantong banyak yang juga berwarna coklat. Semua ia perhatikan berkali-kali hingga kegugupan tentu saja menjadi pilihan terbaikku saat ini. Tapi kubiarkan saja ia mengecap semuanya hingga puas.
       ''Kenapa semua manusia...'' Ia berhenti sejenak. Wajahnya sudah berdarah lagi.
       ''Kenapa manusia?'' lanjutku seraya memapah tubuhku untuk berdiri. Tapi itu malah membuat ia surutkan langkah. Rambut panjangnya beriak-riak.
       ''Kenapa manusia, harus mengenakan kain-kain bercorak di tubuhnya?'' Kain-kain bercorak? Kulirik tubuhku, dan kutemui pakaian sebagai jawabnya. Namun, pertanyaan macam apa ini? Sepanjang hidup baru kali ini kudengar pertanyaan seperti ini.
       ''Pakaian maksudmu?'' ''Kalau itu yang Tuan maksud,'' ia menunjuk tubuhku.
       ''Memang itulah yang kumaksud, tapi kenapa?'' Kudekati ia selangkah, ia mundur selangkah juga.
       ''Pakaian adalah cerminan dari jiwa manusia yang mengenakannya. Ia juga bertugas melindungi metabolisme tubuh yang acapkali dikacaubalaukan cuaca, Puteri.''
       ''Bukan untuk menutupi keburukannya?''
       ''Keburukan?''
       ''Iya. Lihat di sana...'' Ia tunjuk seekor kijang jantan dengan tanduk hitam bercabang jarak lima meter yang tengah memamah rumput. ''Kijang itu tak perlu pakaian. Tuan tahu, sebab tubuh hewan itu telah diciptakan secantik mungkin hingga tak sehelai benangpun boleh menyentuhnya. Tapi manusia...'' Secepat kilat ia merobek baju kaosku.
       ''Lihatlah! Kulit kalian tipis, bulu-bulu kalian bertumpuk, kerangka kalian amat rapuh, dan... ah, bau nafsu kalian begitu kuat!''
       ''Cukup!'' Kutarik tangannya. Kudorong tubuh semampainya. ''Struktur kami memang tak bagus, buruk bahkan. Tapi kami punya yang tak punya kaum mereka.'' Lagi-lagi kijang itu menjadi sasaran tunjuk.
       ''Apa itu?''
       ''Pikiran, perasaan, dan keimanan!'' keras aku berkata. Dan ia, dan ia semakin bingung.
       Tak sempat kujelaskan, seekor srigala dengan kecepatan kasat mata menerkam kijang tadi. Dan kejap berikut ia telah mengunyah sekeping daging dari tubuh indah kijang itu dengan buas. Darah berserak, amis menyeruak. Sang puteri terpekik. Ia hendak menghalau srigala ketika genggamanku menahannya.
       ''Srigala itu amat buas. Tak boleh ia makan hewan secantik itu, dan tak sepadan benar tandingannya. Oh, kijang... kijang. Ia binatang lemah yang tak punya cakar setaji pun!'' Panik ia berceracau. Bola matanya memohon agar dilepaskan.
       ''Tuan Puteri, ekosistem telah mengatur semuanya. Biarkan saja.'' ''Apa itu ekosistem. Bukankah itu teori yang kalian buat!''
       Ia menatapku garang. ''Kalian tak tahu apa-apa tentang alam!'' Ops, aku lengah. Tangannya terlepas dan ia berlari mengusir srigala itu. Dan hewan itu tunggang langgang ketakutan. Sang puteri bersimpuh di samping bangkai kijang. Matanya berbaur dengan air. ''Kijang... Kijang hewan yang malang. Bangunlah, bangunlah sayang...''
       Sambil berlinang tangis, ia membelai kepala kijang. Dan ajaib! Luka menganga di perut kijang itu tiba-tiba mengatup perlahan-lahan. Darah yang melekat di seluruh kulitnya, rumput basah, hilang tanpa bekas. Dan kijang itu, kijang itu hidup kembali! Ia meringkik sejenak, menatap Tuan Puteri syahdu, lalu berlari kencang menghilang di balik semak-semak. Tuan Puteri tersenyum, ia seka air matanya sambil mengawasi arah kepergian si kijang.
       Aku hanya bisa melotot takjub. Logikaku menemui ajal di pisau keajaiban yang dilemparkan sang Puteri. Saat ia mendekat, aku masih terpana dan merasa bodoh. ''Sekarang sudah pahamkah, Tuan. Manusia itu hanya bisa membuat teori-teori tak pasti dengan cabang ilmu yang ia banggakan. Dengan pikiran logis yang empiris maupun dinamis, kalian telah menetapkan segala hal tentang alam. Kalian menghitung-hitung pergerakan tata surya dengan hukum-hukum fisika yang sama sekali tidak menarik. Menerapkan kebijakan bernama filsafat untuk mencari tahu konsep kebenaran. Dan percayalah, kalian tak lain adalah mahluk buta. Lihatlah, barusan telah kutunjukkan betapa keajaiban telah mempermalukan totalitas pemikiran bangsa kalian!''
       Segaris senyum kemenangan tercipta di bibir mungilnya. Aku tertunduk Ada perasaan kecewa, marah, malu, giris, dan percampuran seluruh emosi. Tiba-tiba aku merasa jadi seorang bodoh yang berdebat tentang ilmu.
       Beberapa saat emosi itu telah mereda. Ia masih diam, kini ia tengah membalikkan badan bersiap untuk pergi. Aku beranikan diri menatap rambut, bahu, punggung, pinggul, serta jari-jari lentiknya.
       ''Temani aku…'' Setelah berkata, Tuan Puteri lenggakkan tubuh meninggalkanku. Dan aku mengikutinya dengan patuh, seperti kerbau.
       ***
       Sunyi itu, adalah sesosok peri dengan sayap kaca terbang ringan mengitari kelopak demi kelopak eidelweis yang dingin. Tubuhnya menebarkan wangi terharum hingga dadapun seakan berhidung. Dan, ah, betapa cantiknya ia. Ketika senandung kecilnya mengecup pori-pori telaga, hingga sang air kegelian dan tersipu, dan beriak-riak gelisah. Peri itu lebih anggun lagi saat kumbang-kumbang dicubitnya genit, lalu diaraknya pada pelukan bunga yang telah menanti dengan malu-malu mau. Bunga menerima dengan kasih. Lantas semua kumandangkan tawa, ceria tiba bertalu-talu, perenungan begitu menggebu, konsekuensi berjingkrak-jingkarakan, konsep-konsep melenggak riang, dan manusia. Dan manusia menemukan konklusi dari konflik yang ia hadapi. Usai konflik, usailah sunyi. Berlanjut konflik, ia -sunyi itu- menjelma sebagai predator! Seluruh kepercayaan diri akan dimangsanya. Bahkan tak bersisa sedikitpun buat manusia menegakkan kepala. Karena sunyi itu, ialah kombinasi dari keanggunan dan keganasan jiwa.
       Rimba ini, tempat segala sunyi bersemayam. Tak ada keramaian disuguhkan di sini. Yang ada hanyalah celoteh jangkrik, desau angin, tebaran debu diantara dedaunan yang dengan pongah menunjukkan kekekalannya. Aku, Tuan Puteri, duduk berhadap-hadapan di dekat serumpun bambu. Menikmati sore turun perlahan dan mengawasi pergantian tugas siang dengan malam.
       Tuan Puteri memainkan rambutnya, menatapku, lalu hembuskan nafas lemah. ''Kebosanan, aku hanya menemui kebosanan di dunia ini. Hei, kau!'' Ia tusuk aku dengan matanya yang tajam.
       ''Kenapa mulutmu tak berdaya. Adakah batu mengganjalnya untuk bicara?''
       ''Batu itu, ialah Tuan Puteri.'' Aku berkata pelan hingga menyerupai gumaman.
       ''Aku mendengarnya.'' Ia berdiri. Berjalan sambil melempar pandang ke segala arah.
       Fiuh. Beberapa jam lalu aku masih asyik membiasakan diri dengannya. Bahkan aku amat menikmati saat bersama Tuan Puteri. Ia cerdas, sejuta wawasan tersimpan di memorinya. Kebijakan juga. Bahkan aku sering menanti ia ketika melangkah sembari lantunkan tembang dengan syair-syair jiwa. Sesekali sendu lalu berubah sedih. Kemudian kediamannya itu, ah, luar biasa menggetarkan. Ketika tak sepatah suarapun keluar, bibirnya yang tipis mengatup indah. Warna merah jambu, basah, di bawah hidung bangirnya begitu menggoda untuk dikecup. Mata hitam bening yang beranakkan bulu-bulu lentik itu demikian bersinar. Tapi, aku cuma bisa menelan ludah. Lalu membuang keinginan itu ke angkasa.
       Bukan sebab aku tak mampu, melainkan aku amat mendewikan ia. Wanita yang kutemui tergolek di rimba perawan berkasur rumput hijau itu. Semua keanggunan, kemuliaan, kesucian, telah sempurna ia miliki. Dan aku tak ingin kesempurnaan itu menjadi cacat oleh keegoisan untuk memilikinya, apalagi membekap ia dalam birunya nafsu. Sebab, saat ini adalah sulit memisahkan perbauran cinta dan nafsu.
       ''Tuan benar, rimba ini terlalu sunyi.''
       Setelah berkata dan menatapku sesaat, tak acuh ia melangkah tinggalkan aku untuk ke sekian kalinya. Lagi-lagi, kecintaanku membimbing aku untuk mengikutinya.
       Dalam perjalanan, Sang Puteri terus saja berceracau pada segala hal yang ia lihat. Seperti gunung, lembah, sungai, danau, air terjun, goa, angsa, pipit, elang. Diikuti pertanyaan-pertanyaan yang, ah, tak bisa aku menjawabnya; ''Kenapa gunung itu, begitu congkak memamerkan ketinggiannya? Kenapa lembah-lembah selalu menyisakan gelap? Kenapa sungai beriak tak tentu arah? Kenapa danau, alamak, pendiamnya dia? Kenapa air terjun, kenapa? Kenapa?''
       Begitu terus, tak terasa pertengahan rimba telah kami dirikan badan kini. Dan ia tak melihat apa-apa selain hamparan pohon serta semak berlimpah. Kirik jangkrik bersama hewan-hewan hutan mungil lainnya menyambut kami. Gelap? Sangat. Sebab sedikit sekali cahaya mentari bisa menembus daun pohon-pohon yang besar dan rapat. Terpaksa pematik kuhidupkan. Lalu kami kembali berjalan dalam remang-remang. Kali ini aku di depan Putri, ia patuh mengikuti langkahku. Dan sunyi? Ia lebih meraja saat ini.
       ''Dengar!''
       Tiba-tiba Putri hentikan langkah. Kubalik badan, dan kulihat ia tengah memiringkan kepala ke kiri.
       ''Kau dengar?''
       Berkerenyit dahiku sesaat, namun hanya sunyi di pelukan angin yang dapat kutangkap.
       ''Sudah lebih dari cukup Tuhan berikan engkau telinga, tapi tak juga bisa kau gunakan!'' ketus sekali Putri berkata. Selanjutnya ia melesat.
       Kususul ia, tapi terlambat. Larinya begitu cepat bagaikan perburuan petir! Entah sudah berapa goretan luka di kulit tubuhku karena tercakar ranting-ranting tajam sepanjang kerumunan pohon, dan entah telah berapa tanah becek berkumpul di sepatuku, juga entah pukul berapa maghrib sekarang, tak juga kutemui Ia. Suaranyapun tidak. Berkali-kali aku keluar dari mulut rimba, menjumpai hamparan danau dengan mutiara-mutiara hasil peleburan permukaan air dengan cahaya bulan, untuk kemudian masuk lagi menyusuri sudut-sudut rimba yang-mungkin-- belum terjamah kakiku. Tapi, itu hanya sia-sia.
       Pertengahan malam sudah. Bulan sejajar dengan kepala, sementara aku-sepi dan bimbang-di tengah rimba seorang diri tanpa wajah cantiknya, tanpa celoteh-celoteh yang kerap mengusik kesunyian. Tiba-tiba aku merasa menuju kematian. Benar-benar mati setelah tak juga dapat menjumpai Putri, kekasih yang baru kucintai itu di rimba seganas ini. ''Kemanakah engkau bidadari…'' teriak hatiku ngilu.
       Ketika itulah sebuah suara gaduh terdengar. Makin lama makin keras dan dekat. Bunyi-bunyinya seperti; srigala! Segerombolan srigala buas, iya! Cepat saja mereka telah berdiri mengepungku dengan gigi runcing, lidah terjulur dan berliur, mata merah menyala, cakar-cakar tajam, dan bulu-bulu yang tegak dengan sikap siap terkam. Sepuluh, sebelas, atau bahkan lebih. Aku takut, mundur, mundur, terus mundur hingga punggungku menabrak pohon. Posisiku benar-benar tersudut! Sedang hewan-hewan ganas itu, makin memajukan langkahnya pelan… pelan…. Pelan namun pasti. Dengan leleran liur yang makin banyak dan mata lapar.
       Tepat tatkala seekor dari mereka akan melompat dengan mata tertuju ke leherku, sebuah suara menjadikan ia jatuhkan diri dan kembali ke posisi semula, ''Hentikan!''.
       Tak jadi lega aku ketika mengenali pemilik suara itu. Karena hatiku memastikan suara itu milik seseorang yang seringkali berbaur dalam syair-syair jiwa. Yang sedari pagi tadi mengikuti angin ke segala penjuru. Yang acapkali membuatku damai dan merinduinya. Ialah suara Putri adanya. Suara terindah dimiliki sesosok mahluk. Namun pada saat seperti sekarang, aku jadi mengkhawatirkan ia. Jangan-jangan ketika ia muncul nanti, hewan-hewan buas ini malah memilih ia untuk dimangsa! Tersebab kulitnya, dagingnya, tulangnya, terlalu lunak untuk dilewatkan.
       Tak berapa lama, gadis cantik itu keluar dari balik kegelapan. Berjalan tenang dan senyum datar ke arah kami--aku dan srigala-srigala buas itu. Dan berhenti tepat setengah lengan dari tubuhku yang bersender di pohon, tanpa reaksi apa-apa dari srigala-srigala itu! Kuperhatikan lagi mereka, dan kali ini aku menelan ludah saat kulihat mereka telah duduk dengan sopan dan tanpa sikap kelaparan seperti tadi. Wajah-wajah mereka begitu damai dan yakin. Seperti keyakinan kepada pemimpin. Apakah?
       ''Aku sudah bilang, jangan kau mangsa hewan atau mahluk lemah. Cari lawan yang sepantar denganmu.'' Tanpa menoleh dari wajahku, Putri berkata. Entah kepada siapa, yang jelas hewan-hewan itu semakin tertunduk dalam dan diam. Seolah merasa amat bersalah!
       ''Pergilah, kususul kalian di muka rimba!''
       Srigala-srigala itu menurut, dan mulai melangkah menjauhi kami. Bahkan suara riuhpun tak mereka tinggalkan sedikitpun. Itulah tanda-tanda bawahan meninggalkan pimpinan. Begitu sopan.
       Ketika telah berdua saja, aku hanya membisu dengan banyak pertanyaan yang kuwakilkan melalui mata kepada Putri.
       ''Tak ada yang mesti dipertentangkan di sini. Yang penting hari ini kau selamat dari kematian. Entah esok.''
       ''Srigala itu… Srigala itu…'' ujarku terbata-bata.
       ''Mereka, serdaduku. Lihatlah, jauh lebih ringan membengkokkan tulang yang telah dipanasi ketimbang saat ia dingin. Andaikata kutentang mereka untuk tidak memangsa hewan lemah, pasti aku tewas dalam serbuan mereka. Tapi lain hal jika posisi aku sebagai seorang saudara, sahabat, pemimpin, ataupun tokoh yang mereka hormati, pastilah pekerjaan itu akan jauh lebih ringan dan berhasil. Sederhana sekali, kan…''
       Yakin sekali Putri berkata. Senyumnya terukir, tak lagi kutemui senyum seorang bidadari di bibir tipisnya, melainkan senyum seorang jenderal! ''Sudahlah, masih banyak ketimpangan yang harus aku dan prajuritku mangsa. Seperti singa, macan, ular, buaya, elang, bahkan pemburu seperti kau! Tapi tentu saja aku akan buat pengecualian buat Tuan. Juga… mmm, apa itu yang ada di kota? Di balik beton-beton mewah, di dalam suara-suara khalayak, di antara kepentingan demi kepentingan, di gerbang pemikiran-pemikiran licik bin picik? Apa itu? Apa itu yang kalian namakan…''
       Aku tak menjawab. Tuan puteri menggerak-gerakkan bola matanya yang telah merah dengan lincah. ''Mereka sangat kejam. Banyak jiwa dan kehidupan telah dihabisinya. Tipu dayanya menyengsarakan. Sebab itu mereka pantas dimangsa prajurit serigalaku. Apa itu? Apa itu yang kalian namakan…''
       Lagi-lagi kujawab dengan kebisuan.
       ''Pedulilah. Kucari tahu di kota saja nanti. Dan Tuan, kuharap bergegas meninggalkan hutan ini secepatnya. Aku tak ingin ribuan prajurit yang akan menyusulku tergoda menerkam tubuh lemah Tuan. Pergi, pergilah.''
       Usai berkata begitu, ia kembali melesat dalam derap-derap langkah yang kian berat dan tegas. Menyusuri kegelapan demi kegelapan yang berlapis pada malam, pada hari, pada waktu, dan pada musim-musim yang tak berbatas. Hingga tak berkesudahan aku merenungi arti kesendirian dan kesunyian di balik punggungnya yang telah lama menghilang. Putri, kekasihku itu telah menjadi bar-bar!***

Jambi, November 2002